Tampilan : Daftar Grid
Showing posts with label FanFiction. Show all posts
Showing posts with label FanFiction. Show all posts

[FF] [Big Bang] My First Love

Title : My Frist Love
Author : My Bestfriend (Debora Antika Putri / http://deboraantika.blogspot.com/)
lenght : One shoot
Genre : romance, sad
Main cast : -GD Big bang
                  -Daesung big bang
                  -Seungri Big Bang
                   -Kim soo kyo
                   -Shin ha ra


======




Anyyeong na Kim Soo Kyo imnida, aku adalah seorang yeoja sederhana dan penuh dengan kesedihan semenjak ditinggalkannya, aku juga berasal dari keluarga yang lumayan berkecukupan, dan aku tinggal bersama eomma dan appaku, eommaku adalah Kim Soo Na dan appaku adalah Kim Ho Ae, aku adalah anak tunggal maka dari itu kadang aku merasa sangat kesepian karena aku tak mempunyai saudara untuk teman berkeluh kesahku dan tempat sandaranku, namun di balik semua itu bagaimanapun keadaaannya aku mencoba untuk mensyukurinya, karena aku mempunyai eomma dan appa yang sangat baik dan sayang kepadaku,

Aku juga mempunyai sahabat yang sangat dekat denganku. namanya adalah shin ha ra, dia adalah tetanggaku, kami bersahabat sejak kecil, dia adalah yeoja yang sangat baik dan mengerti perasaanku, kami selalu bersama sejak kecil, dia juga menjadi saksi bisu cintaku dengan G-Dragon oppa, dan dia juga menjadi saksi dimana aku mulai ditinggalkan oleh G-Dragon oppa, entah mengapa aku merasa sangat sedih, terluka dan terpukul mengingat semua peristiwa menyakitkan itu, ahh aku sudah mencoba untuk melupakan semuanya namun yang terjadi aku justru semakin sakit dan semakin mencintainya, tapi bagaimanapun aku akan mencoba bangkit demi eomma, appa dan hara.

Sekarang usia ku telah menginjak 20 tahun, namun di usiaku sekarang ini entah mengapa aku tak bisa mengubah perasaaku kepada GD Oppa, hanya satu namja yang aku cintai sepanjang hidupku dia adalah G-Dragon oppa, ingin sekali kuumumkan kepada dunia, bahwa aku hanya ingin bersanding disisi G-Dragon oppa, hal itu pasti sangat membahagiakan bagiku, namun saat aku mengingat peristiwa pahit itu hatiku terasa seperti teriris.

Flasback POV

semua ini berawal dari peristiwa 8 tahun yang lalu, dimana saat usiaku masih 12 tahun, aku adalah yeoja yang ceria walaupun aku adalah anak tunggal, namun aku memiliki hara , dia sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri, saat itu aku tak memikirkan apapun, aku hanya memikirkan untuk menikmati masa kecilku bersama dengan hara.

saat kami sedang asik bermain di depan rumahku, aku sangat kaget saat ada mobil mnurunkan barang-barangnya dan membuka rumah yang letaknya di sebelah kiri rumahku, aku melihat ada namja turun dari mobil itu, namja tinggi dan tampan itu memandang kami sejenak lalu mulai masuk ke dalam rumah nya dan menata semua barangnya ke dalam rumahnya.

aku dan hara hanya memandang rumah itu, entah mengapa kami menjadi sangat penasraan dengan namja itu.

"soo kyo-ah, apa kau merasa ada yang aneh dengan mereka?" tanya hara mengagetkanku.

"ahh, nae entah mengapa aku merasa ada yang janggal dengan keluarga baru itu" jawabku kepada hara dengan mengangguk mantap.

"ahh..sudahlah hari sudah mulai larut, sebaiknya kau masuk soo kyo-ah, aku juga akan pulang ke rumahku, pai.pai" kata hara lalu meninggalkanku.

"nae hara-ya, hati-hatilah" kataku lalu mulai masuk ke dalam rumahku.

Entah mengappa aku terus memikirkan namja itu, tatapan matanya benar-benar sendu, dan raut wajahnya terlihat sangat sedih, sebenarnya apa yang terjadi dengan namja itu? dan anehnya aku merasa penasaran dengan namja itu.
Flashback POV End

"changia, bangunlah bukankah kau harus berangkat ke kampus? hara-ya sudah menunggumu di bawah" kata eomma sontak membuatku kaget dan aku langsung mandi dan bergegas bersiap-siap untuk berangkat ke kampus, kasihan hara telah menungguku.

"hara-ya , kajja kita berangkat" kataku kepada hara setelah aku turun dari kamarku dan mendatangi hara yang sedang terduduk di ruang tamu.

"soo kyo-ah, hara-ya, kenapa kalian tidak sarapan dulu?" tanya eomma kepada kami.

"anio eomma kami terburu-buru" kata ku lalu mulai berpamitan kepada eomma, harapun melakukan hal yang sama.

Lalu kamipun mulai berjalan menuju ke arah kampus kami yang jaraknya tak jauh dari rumah kami

"soo kyo-ah, kenapa kau baru bangun? apa kau tidak bisa tidur lagi?" tanya hara kepadaku.

Aku mengangguk pelan dan memandang jalan dengan tatapan nanar.

"seperti  yang kau tau hara-ya, aku terus memikirkan GD oppa, sampai-sampai aku tidur larut malam sekali" kataku sedih.

"dan malamnya kau memimpikan GD oppa lagi?" tanya hara kepadaku.

Aku hanya mengangguk, dan tak kusangka hara memegang tanganku dan menggenggamnya erat.

"sabarlah soo kyo-ah, aku yakin GD oppa akan kembali kepadamu" kata hara mencoba menenangkanku.

"aku sudah berhenti berharap hara-ya, aku sudah merasa putus asa dengan semua ini" kataku putus asa.

"jangan begitu soo kyo-ah, bagaimanapun aku yakin GD oppa punya alasan dibalik semua ini" ujar hara sambil merangkul bahuku, aku memegang tangannya dan tersenyum kepadanya.

Aku senang dia memberiku kekuatan saat aku benar-benar merasa lemah dan putus asa seperti ini. Ahh Tuhan kuharap suatu saat Engkau mendengar doaku, aku ingin GD oppa menemani hariku lagi, memberi bekas memory indah dalam otakku, memberikan senyum yang tak pernah luntur.
Hyerin POV End

Hara POV
Aku merasa kasihan dengan soo kyo, entah mengapa dia bisa begitu terluka melihat GD oppa meninggalkan nya, aku juga sedikit kecewa dengan GD dia meninggalkan soo kyo begitu saja, GD oppa kuharap kau memberi penjelasan kepada sahabatku yang terluka saat ini.
Hara POV End

Skip
Author POV

Sampailah mereka di kampus mereka, suasana masih sangat sepi mungkin karena banyak yang tidak kuliah di pagi hari buta seperti saat ini.
Soo Kyo dan Hara mulai memasuki ruang kuliah, mereka melihat daesung sudah menunggu kehadiran mereka, nae daesung adalah sahabat mereka berdua, daesung yang melihat kehadiran mereka langsung tersenyum bahagia, soo kyo dan harapun segera menghampiri daesung.

"kalian baru sampai?" tanya daesung kepada kami.

"nae.." jwab soo kyo singkat.

"wae soo kyo-ah? sepertinya kau terlihat sangat letih?" tanya daesung kepada soo kyo.

"anio daesung-ah, nan gwencana" kata soo kyo lalu tersenyum pahit.

Pembicaraan mereka mulai buyar saat songsaenim sudah memasuki ruang kelas mereka, daesung , soo kyo dan harapun mulai mengikuti pelajaran yang diberikan oleh songsaenim.

Soo Kyo POV

Aku sampai di kampus, dan aku melihat daesung sedang menungguku dengan hara, daesung sangat baik kepadaku, dia selalu perhatian kepadaku, coba saja kalau aku bisa menggantikan posisi GD Oppa di hatiku, namun nampaknya hal itu tidak bisa terjadi , hatiku sudah menjadi milik GD oppa.

Songsaenim sudah meninggalkan ruangan kelas kami , aku hara dan daesung pergi ke kantin.
haralah yang terlihat palling bahagia karena di kantinlah dia bisa bertemu dengan namja aneh dari fakultas seni, namanya adalah seungri, dia namja yang tampan, namun kelakkuanya yang pendiam, pemarah dan juga penyendiri itu membuat dia dijuluki sebagai namja aneh, dan anehnya juga hara menyukai namja itu sudah 1 tahun lebih hara menyukainya.

"hara-ya, liatlah sang pangeranmu sedang menikmati makannya" kata daesung mengejek hara.

Hara yang mendengar itu lalu tertunduk dan pipinya memerah karena malu, ahh hara-ya semoga harapanmu bisa bersanding di sisinya bisa tercapai.

"Hara-ya , bisakah kau ambilkan makanan di sana?" ktaku meminta bantuan kepada hara.

"ngg...nae soo kyo, jakkamanyo" kata hara lalu pergi meninggalkan hara.

Saat itu aku sedang bercanda dengan daesung, aku mendengar bunyi piring pecah...
praakk...
dan ternyata hara menabrak namja aneh yag ternyata adalah seungri, baju seungri penuh dengan tumpahan jus yang dibawa hara tadi.

"mi..mian..mianhe" kata hara sedikit tertunduk.

Tuhan jangan sampai karena aku hara dimarahi oleh seungri, aku harap seungri tidak bersikap kasar dengan hara.

"gwencana" kata seungri lalu tersenyum kepada hara, mwo? dia tersenyum kepada hara? bukankah dia adalah namja yang aneh, tapi kenapa dia bisa begitu baik dengan hara.

"je..jeong..jeongmall gumawo seungri-ah" kata hara senang.

"kau mengenalku?" tanya seungri bingung..

"ng.." jawab hara terbata, muungkin dia bingung harus menjawab apa..

"nae, aku hanya mengenal mu" jawab hara seadaanya..

"kau siapa?" tanya seungri bingung.

"hara" jawab hara singkat , mereka lalu mengobrol sebenatar dan akhirnya hara menghampiriku dengan senyum yang terus mengembang dipipinya.

"kau bahagia hara-ya?" tanya ku mengejeknya.

"sudahlah soo kyo-ah, jangan mengejekku" katanya malu.
Soo Kyo POV End

Hara POV Entah mengapa jantungku masih berdetak begitu kencangnya, seungri oppa mengajakku berkenalan, kenapa dia bisa begitu baik kepadaku? bukankah kata anak-anak lain dia adalah namja pendiam dan pemarah, untunglah aku tidak dimarahi olehnya, namun yang pasti aku sangat bahagia ada sedikit celah bagiku aku bisa masuk ke dalam hatinya seungri oppa, Tuhan semoga kau mempersatukan kami kemudian hari nanti.
Hara POV End

Skip
Soo Kyo POV Aku melangkahkan kakiku dengan lemas menuju taman belakang rumahku, entah mengapa aku hanya ingin sendiri saat ini, merasakan getirnya hati semejak kepergiannya . Tuhan apakah Engkau tak ijinkan aku kembali bersatu dengan GD oppa, tanpa terasa air mata mulai membanjiri pipiku, aku menangis meneteskan air mata dan mulai menutup mataku..ahh semua kenangan itu kembali hinggap dalam otakku, benar-benar menyebalkan.

Flashback POV

Ternyata tetanggaku itu adalah GD oppa, dia adalah namja yang tampan dan tinggi, umurnya berjarak 3 tahun dariku, tentu saja saat itu dia berumur 15 tahun, dia adalah namja yang sangat garang dan pemarah, aku sangat takut berteman dengannya namun aku dibuat penasaran olehnya.

Saat itu dia sedang duduk termenung di taman, dan aku sedang menunggu hara yang tak kunjung datang, aku memutuskan untuk menghampiri GD oppa, dengan langkah gemetaran dan langkah gontai aku menghampiri dia yang sedang duduk menikmati taman itu.

"ng..anyyeong.." sapaku ramah kepadanya.

"nae..nado anyyeong" jawabnya ramah.
"boleh aku duduk disampingmu" tanyaku sebenarnya sedikit ragu dengan pertanyaan ku sendiri.

"boleh, silahkan" katanya sambil tersenyum simpul.

"na soo kyo-ah, nuguya.?" tanyaku mengajaknya berkenalan dan mengulurkan tanganku kepadanya, dia menyambut uluran tanganku lalu tersenyum kepadaku.

"nan G-Dragon imnida" katanya pelan.

Entah mengapa aku dibuat salting oleh senyumannya, senyuman itu berhasil memberikan arti khusus di hatiku saat ini, ahh GD oppa ternyata tak segarang yang kufiikrkan.

itulah awal pertemuanku dengan GD oppa, di taman yang menjadi saksi pertemuan kami, saksi kedekatan kami nantinya.
Flashsback POV End

Tuhan janganlah Kau ijinkan semua kenangan ini terus terlintas dalam benakku, aku tak sanggup jika selamanya aku harus seperti ini. Andai saja aku bisa memutar waktu aku tak akan pernah ijinkan GD oppa pergi meninggalkanku, aku ingin dia berada disampingku selamaya.

Entah kenapa juga rasanya air mata ini tak berhenti mengalir dari pipiku, Tuhan hanya Engkau yang tau keluh kesahku saat ini, aku sungguh tak sanggup menjalani semua ini.
Soo Kyo POV End

Skip
Sementara itu ditempat yang berbeda dan waktu yang sama.

GD POV

"makanlah changi" kata eomma kepadaku, ahh entah mengapa aku sangat malas apabila eomma memanggilku changi, aku kan bukan anak mama,

"anio eomma, dan tolong jangan panggil aku changi lagi" kataku sedikit membatah, aku melihat eomma sangat sedih mendengarkan perkataanku, namun aku tidak suka jika eomma masih memperlakukanku seperti anak kecil lagi, bagaimanapun aku sudah berumur 23 tahun,obr />
"mianhe Gd-ah, sekarang kau makanlah dulu, kau butuh banyak makanan untuk memulihkan kesehatanmu" kata omma kepadaku.

"nanti eomma, aku masih belum lapar sekarang" kataku lirih, eomma terlihat putus asa dan meninggalkanku yang masih sangat asik dengan lamunanku sekarang ini.

Tuhan aku sangat merindukan soo kyo-ah, aku ingin sekali bertemu dengannya, namun hal itu tidak mungkin terjadi aku tak ingin soo kyo panik dan kuatir dengan kondisiku saat ini. Ahh Tuhan andai tubuhku sehat dan normal seperti namja lainnya aku pasti sangat bahagia, dan aku pasti akan dengan percaya diri bersanding disisi soo kyo, namun apa daya aku menderita penyakit yang sangat ganas, aku tak ingin soo kyo menjadi kalut karenaku, kuharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya lagi, sebelum maut memisahkan kami untuk selamanya.
GD POV End

Skip
Soo Kyo POV

Hari demi hari berlangsung, detik demi detik terus berganti, namun suasana hatiku masih belum berubah, diliputi berbagai kesedihan setelah kepergian GD oppa, namun perlahan aku harus belajar tegar dan melupakan GD oppa, dan sekarang aku juga bahagia karena hara ya nampaknya sudah sangat dekat dengan namja impiannya itu, entah mengapa seungri sangat terbuka kepada hara, padahal sebelumnya dia dikenal sebagai namja aneh dan pendiam.

"hara-ya, bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan seungri?" tanyaku kepada hara.

hara hanya tertunduk malu, nampaknya dia terlihat sangat bahagia tentang kedekatannya dengan seungri.

"ehhmm..molla soo kyo-ah, kami masih dekat, kedepannya semoga kami bisa bersatu" katanya penuh harapan.

"nae aku doakan kebahagiaanmu" kata ku kepada hara sambil tersenyum .

"gumawo soo kyo-ah, semoga kau juga akan bahagia bersama dengan GD oppa nanti" katanya lalu memeluk tubuhku erat. Tuhan kenapa hatiku sakit lagi saat aku mulai mengingat tentang GD oppa..

Flasback POV

Aku menjadi sangat dekat dengan GD oppa, semenjak peristiwa di taman itu, aku menjadi semakin akrab dengannya, ternyata GD oppa adalah namja yang sangat baik dan pengertian, dia selalu ada saat aku membutuhkan, namun GD oppa juga namja yang sangat tertutup,entah mengapa dia tak menceritakan satu hal pun tentang keluarganya, padahal hubungan kami sekarang sudah sangat dekat.

Hingga suatu saat aku bermaksud untuk mengajak pergi GD oppa ke taman aku mendengar suara benda pecah dari dalam rumah, hingga aku mengurungkan diri untuk mendatangi bias, aku memutuskan untuk menunduk di samping rumah bias.

"Apa maksud eomma dengan semua ini? tidak puaskah eomma dengan semua hal yang selalu aku lakukan kepada eomma" kata GD oppa sambil menangis.
Mwo? GD oppa menangis? kenapa GD oppa harus menangis seperti itu.

"eomma tak bermaksud seperti itu, eomma juga tak tau apa yang appamu ingin lakukan kepadamu."

"ahh..molla eomma, kenapa eomma begitu jahatnya kepadaku" kata GD lalu meninggalkan rumah, aku memutuskan untuk mengikuti kepergian GD oppa dan teryata GD oppa pergi ke taman.

Dia duduk lalu menutupi mukanya dengan kedua tangannya, dengan ragu aku menghampiri bias.

"wae oppa? kenapa kau terlihat bersedih?" tanyaku kepadanya, dia memandangku lalu memelukku erat.

"aku membenci semuanya soo kyo-ah, hanya membuatku sebal saja" katanya sambil terus menangis dalam pelukanku.

"wae oppa? oppa bisa cerita padaku kalau oppa percaya" kataku berusaha meyakinkannya.

"jeongmall? arra oppa akan ceritakan kepadamu" katanya lalu menghela nafas panjang, sementara aku terus menunggu jwabannya.

"appa ku adalah appa yang sangat berambisi terhadap pekerjaanya, dia adalah orang yang gila kerja, dia sering menelantarkan kami ,sampai-sampai aku merasa bahwa aku tak mempunyai seorang appa, namun sekarang seenaknya saja dia menyuruhku untuk sekolah ke luar negeri agar ketika aku lulus nanti aku bisa meneruskan bisnisnya, aku tidak mau menjadi seperti appa, hanya karena pekerjaannya dia menjadi lupa akan keluarganya, namun aku bingung harus melampiaskan kemarahanku kepada siapa, aku juga sebenarnya tak tega terhadap eomma" katanya sambil menghela nafas panjang.

"sabarlah oppa, semua masalah tidak bisa diselesaikan dengan emosi , oppa benar-benar harus bisa mengontrol diri dan emosi oppa dan oppa harus lakukan apa yang terbaik menurut oppa" kataku kepadanya, dia tersenyum kepadaku dan memelukku erat, pelukan ini adalah pelukan yang sangat kudambakan.
Flashback POV End

Skip
Soo Kyo POV

Ahh aku sangat bahagia hari ini karena akhirnya sahabtku memiliki seorang namja chingu, nae hara-ya akhirnya bisa bersama dengan seungri namja yang telah lama dicintainya.

"soo kyo-ah, apa yang sedang kau fikirkan?" tanya daesung membuyarkan lamunaku.

"ahh..anio daesung-ah" kata ku singkat.

"kenapa kau selalu begitu soo kyo-ah, apakah sebegitunya kau membenciku?" tanya daesung membuatku terkaget.

"anio..aku tak membencimu daesung-ah, nan gwencana," kataku sambil memutar gelas yang ada di depanku.

dan tak kusangka daesung memegang tanganku, aku memandangnya kaget sementara dia menatap mataku tajam, aigoo sebenarnya apa yang terjadi dengan daesung, kenapa dia begitu aneh hari ini.

"wae daesung-ah?" tanya ku kepadanya.

"soo kyo-ah, apa kau tak sadar tentang perasaan ku selama ini" katanya masih dengan tatapan mata tajam.

"maksudmu daesung-ah?? aku benar-benar tak mengerti dengan apa yag kau katakan" kataku pelan.

"selama ini aku mencintai mu hara, na neol saranghaeo" katanya yakin.

Aigoo apa aku tak salah mendengar, kenapa tiba-tiba daesung mengatakan perasaannya kepadaku , apa yang harus aku katakan sekarang.

"kau tak harus menjawab sekarang soo kyo-ah, aku mengerti kau masih mencintai namja lain" katanya dengan tatapan sayu.

"ahh sudahlah , akku pergi dulu" katanya semakin membuatku syok, Tuhan sbenarnya apa yang terjadi dengannya, aku harap yang dia katakan adalah bohong, aku tak mau merusak persahabatan kita.

Ahh Tuhan situasi ini benar-benar membuatku semakin pusing.
Soo Kyo POV End

Daesung POV Aku tak mau berlama-lama lagi memendam perasaanku kepada soo kyo, aku sudah terlalu lama mencintainya, sejak pertama kali aku melihat soo kyo aku sudah mencintianya, sekarang aku hanya bisa berharap soo kyo bisa melupakan namja itu dan soo kyo bisa menerimaku sebagai namjachingunya.
Daesung POV End

GD POV

Tuhan, aku sangat merindukan soo kyo, apa yang harus aku lakukan saat ini? sudah 3 tahun aku tak bertemu dengannya, aku ingin sekali walaupun aku hanya bisa memandangnya dari jarak jauh, aku sudah merasa sangat lega.

"GD, kau harus segera menjalani kemoterapi lagi" kata uisa itu menganggetkanku.

"ahh..nae uisa" kataku lalu mulai mengikuti uisa itu pergi.

Nae aku terkena leukimia, aku sudah stadium 3, setiap 3 hari sekali aku harus menjalani kemoterapi untuk mengurangi sel kanker dalam diriku, namun nampaknya semua itu sudah sia-sia kanker ku sudah parah, seandainya sebentar lagi Tuhan mengambil nyawaku aku hanya ingin melihat soo kyo selalu tersenyum dan dia tak bersedih lagi karenaku.

"kau harus banyak makan dan rajin minum obat" kata uisa itu menasehati.

"ahh..nae uisa" kataku lirih.

Tuhan betapa menyedihkan hidupku ini, aku harus menjalani semua masa sulit ini, aku juga ingin seperti namja lain yang masih bisa menikmati hidupnya dengan normal berbeda denganku yang harus dihantui oleh penyakit kanker ganas ini.
GD POV End

Flashback GD POV

Hari ini adalah hari terberat dalam hidupku, saat aku mengetahui bahwa aku terkena kanker leukimia aku memutuskan untuk pindah rumah dan menjauh dari soo kyo , itu adalah keputusan terberat yang harus aku ambil dalam hidupku, aku meninggalkan yeoja yang benar-benar aku sayang, Tuhan andai aku mempunyai keputusan.

Saat itu aku mengajaknya ke taman, taman inilah yang menjadi saksi cinta kita, ditaman inilah aku dipertemukan dengan soo kyo dan di taman inilah aku juga akn dipisahkan dengan soo kyo,

Gadis itu berjalan menghampiriku dan tersenyum ke arahku, Tuhan sebenarnya aku tidak mau kehilangan senyuman soo kyo namun apa daya aku tak mau membuatnya khawatir dengan keadaanku saat ini.

"anyyeong oppa" katanya menyapaku.

"anyyeong soo kyo-ah" kataku sedikit gugup,

"kenapa oppa memanggilku kesini?" tanyanya bersemangat.

Entah aku tak tau harus mengatakan apa, aku memegang tangannya dan memegangnya erat.

"gumawo soo kyo-ah, kau membuat hidup oppa lebih tenang sekarang, oppa menjadi sedikit lebih akur dengan eomma, dan oppa menjadi lebih mengerti dengan jalan hidup oppa" kataku lalu menghela nafas panjang.

"tapi changia, mianheyo..jeongmall mianheyo" kataku pelan.

"wae oppa? kenapa oppa meminta maaf?" tanyanya tak mengerti.
"oppa harus pergi ke luar kota, kau disini jagalaah dirimu baik-baik" kataku dengan suara berat, Tuhan berat sekali semua ini, ingin rasanya aku menangis,

dan tak kusangka dia terdiam menatapku dan air mata mulai menetes dipipinya.

"jeongmall mianheyo soo kyo-ah, oppa harus pergi" kataku lalu mulai pergi meninggalkan dia, Tuhan hatiku benar-benar hancur saat ini, aku harus meninggalkan yeoja yang telah lama aku sukai.
Flashback GD POV End

Soo Kyo POV

Ahh kurasa hari ini aku hampir gila, Daesung menyataka perasaan nya kepadaku, sedagkan hara asik berpacraan dengan seungri ahh, aigoo apa yang harus aku lakukan sekarang, kuliah telah selesai aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah dan istirahat.

Ahh aku merasa kesepian karena hara hari ini tidak bisa menemaniku, dia harus pergi bersama dengan pacar barunya, nae aku mengerti mungkin hara harus bersenang-senang dengan seungri, aku harus mengalah demi kebahagiaan hara.

"Soo Kyo-ah, lama tidak bertemu" kata seseorang, aku mendongak ke asal suara, dan betapa kagetnya aku melihat GD oppa di depanku.

"oppa" kataku tak percaya, tanpa kusadari air mata mulai menetes di pipiku.

GD oppa lalu menghampiriku dan menghapus air mataku, dia tersenyum kepadaku kemudian memelukku erat.

"oppa benar-benar merindukanmu" kata GD oppa sambil mencium keningku.

Aku masih tak percaya dengan semua ini, namja yang aku tunggu selama 2 tahun ini sudah kembali kepadaku

"kau benar GD oppa?" tanyaku kepadanya. dia memukul kepalaku pelan.

"pabo..tentu saja aku adalah GD oppamu" katanya sambil tersenyum kepadaku.

"ahh..ayo kita cari tempat mengobrol yang nyaman" kata GD oppa lalu menarik tanganku dan mengajakku masuk kedalam kafe, lalu kami duduk di samping jendela menghadap jalan raya dari kafe tersebut.

"aku masih tidak percaya akhirnya oppa kembali" kataku kepadanya.

GD oppa lalu memegang tanganku dan mencium tanganku pelan.

"nae oppa kembali untukmu" kata GD oppa sambil terssenyum manis.

"kenapa oppa meninggalkanku?"

"mianhe , jeongmall mianheyo, eomma mengajak oppa pindah ke luar kota, oppa terpaksa harus mengikuti eomma" kata GD oppa kepadaku.

"tapi tetap saja oppa jahat" katakku tak mau kalah.

"mianhe, tapi cinta oppa kepadamu tidak pernah boong changia" kata GD oppa memandangku semakin erat.

Tuhan apakah aku bermimpi? jika aku bermimpi tolong jangan bangunkan aku dari mimpi indahku ini,

"nado saenghaeo oppa" kata ku kepada GD oppa dia tersenyum memandangku.

Kamipun lalui hari kami bersama, aku senang Tuhan telah kirimkan kembali malaikat penyelamat dalam hidupku yaitu GD oppa.

Skip

entah mengapa aku tak bisa berhenti tertawa, aku merasa sangat bahagia aku bisa bertemu kembali dengan GD oppa, aku sudah lama menunggu waktu ini, namun bagaimana pun aku sudah sangat bahagia GD oppa kembali, aku mengambil handphoneku dan menekan nomor hara di handphoneku.

"anyyeong hara-ya, apa yang sedang kau lakukan?" tanyaku kepada hara .

"anyyeong soo kyo-ah, sepertinya kau sedang bahagia" kata nya kepadaku, ahh tebakan hara memang benar.

"nae hara. kau tau tidak aku sedang sangat bahagia sekarang" kataku antusias.

'wae soo kyo-ah? apa yang terjadi?" tanyanya penasaran.

"aku bertemu kembali dengan GD oppa, benar-benar seperti mimpi" kataku bahagia.

"jeongmall, chukae hara-ya, akhirnya kau bisa bertemu dengan GD oppa lagi" kata hara ikut bahagia.

"nae, gumawo hara-ya, sekarang tidurlah kita harus bangun pagi bsok" kataku kepadanya.

"anyyeong soo kyo-ah" kata hara lalu menutup telefonnya.

Aku masih belum percaya dengan semua ini, aku harap saat aku membuka mata nanti aku harap semua yang aku alami hari ini bukanlah mimpi.

Skip
Hari demi hari aku semakin dekat dengan GD oppa, kami benar-benar menjadi pasangan kekasih yang utuh, akupun menjadi sangat bahagia, aku manjadi seorang soo kyo yang ceria dan bahagia seperti dulu.

Hari ini aku dan GD oppa memutuskan untuk pergi berkencan, aku menunggu GD oppa di depan rumahku, tak lama kemudian GD oppa sudh meghampiriku di depan rumahku.

"kau siap changia? kajja kita berangkat" kata GD oppa, akupun mulai masuk ke dalam mobil GD oppa.

Kami pergi berkencan bersama , bercanda gurau bersama, dan tiba-tiba saja saat kami sedang bermain bersama GD oppa mimisan, akupun menjadi sangat kuatir, hingga akhirnya kami memutuskan untuk pulang.

Saat aku mulai berbalik aku melihat tubuh lemah GD oppa sudah terjatuh di jalan, aku menghampiri GD oppa lalu meminta pertolongan dan membawa GD oppa ke rumah sakit, entah mengapa hatiku terasa sangat sakit melihat keadaan GD oppa seperti itu.

Sampailah ke rumah sakit, GD oppa segera dibawa ke UGD, aku hanya bisa menunggu di depan ruangan sambil terus meneteskan air mata, sebenarnya apa yang terjadi dengan GD oppa, kenapa aku merasa sangat takut dan tiba-tiba hatiku menjadi semakin bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi dengan GD oppa, kenapa tiba-tiba GD oppa pingsan dan meneteskan darah dari hidungnya begitu banyak.

Tuhan aku benar - benar merasa sangat sedih saat ini, apa yang harus aku lakukan bila terjadi sesuatu terhadap GD oppa, aku tak mau GD oppa kenapa - napa, aku tak ingin hal buruk terjadi kepada GD oppa, apa yang harus aku lakukan jika hal buruk itu terjadi dan dia meninggalkanku lagi, bagaimana bisa aku melanjutakan hidup tanpanya??

"Inginku menemaninya dan selalu bersamanya" kataku sambil terus meneteskan air mata

Aku menunggu sangat lama namun uisa tidak segera keluar dari ruangan itu, Tuhan harus berapa lama lagi aku menunggu? Jantungku berdegup semakin cepat, air mata mengalir semakin deras, harus berapa lama aku menangis seperti orang gila? Tuhan aku bener - bener tak sanggup berdiri saat ini, kakiku seperti tertimpa batu yang sangat berat, kepalaku seperti terhimpit beban yang sangat berat, ahh Tuhan tolong berilah kesembuhan kepada GD oppa, tak lama kemudian uisa itu keluar dari ruangannya dan menghampiriku.

"mianhe..kami sudah berusaha sekuat tenaga, namun nampaknya dia tidak bisa diselamatkan, jeongmall mianhe" kata uisa itu lalu pergi meninggalkanku yang masih berusaha mencerna kata-katanya, Tuhan dengan kata lain GD oppa telah kau panggil pulang? apa yang harus aku lakukan? Aku tak mau kehilangan namja yang menjadi cinta pertamaku itu, kehilangan dia berarti aku harus kehilangan separuh nyawaku, bagaimana bisa aku hidup tanpa GD oppa, Ahh baru saja aku merasakan kebahagiaan kenapa sekarang aku harus kehilangan hal yang sangat berarti bagiku.
 

Skip
Hari ini adalah hari pemakamana GD oppa, kami semua telah berkumpul, termasuk daesung, hara dan seungri, entah mengapa aku masih belum bisa menerima semua kenyatan ini, aku telah kehilangan cinta pertamaku, aku telah kehilangan hal yang menjadi segalanya dalam hidupku.

Aku menemukan surat tergelatak dalam kamarku, dan ternyata surat dari GD , surat terakhir darinya sebelum dia pergi, namun kapan surat ini bisa ada disini? ahh molla dengan ragu-ragu aku mulai membuka isi surat itu.

Dear My Love Soo Kyo-ah

Kalau kau membaca surat ini mungkin oppa sudah berada di surga, mianhe oppa tak sempat memberitahu semua nya kepadamu sejak awal, namun asal kau tau changia semua itu oppa lakukan karena oppa tak ingin senyum itu hilang dari wajahmu, oppa sangat mencintaimu sejak pertama kali oppa bertemu denganmu.

Semua kenangan itu tak bisa hilang dari otak dan hati oppa changia, jeongmall mianhe karena terlalu mencintaimu oppa tak sanggup menceritakan tentang penyakit ganas yang menyerang oppa 2 tahun lalu yaitu leukmia, tepatnya saat oppa meninggalkanmu changia, oppa hanya tak ingin membuatmu kuatir dan cemas kepada oppa.

Asal kau tau oppa sangat mencintai mu..kuharap kau bisa bahagia changia disana, oppa yakin kau akan temukan namja yang tulus mencintaimu suatu saat nanti.

I Love You
GD

Aku menangis sejadi-jadinya, aku benar-beanr tak tau harus mengatakan apa, aku memeluk surat ini erat, aku hanya bisa menangis dan meratapi kepergian cinta pertamaku sekarang.
Oppa kuharap kau akan bahagia disana , aku akan selalu mencintaimu.

Skip
1 tahun kemudian.

Soo Kyo POV Aku menghampiri kubur GD oppa, masih sama seperti sebelumnya, aku meletakan bunga diatas nisannya,

"semoga kau selalu bahagia disana My Frist Love" kataku kepada nisan GD.

"kau sudah selesai changia?' tanya namja yang sekarang menjadi namja chinguku.

"nae daesung-ah" kataku pelan.
"eh, panggil aku oppa" protesnya tak terima,

"nae oppa" kataku lalu mulai memeluknya.

Ahh aku sangat bahagia walaupun GD oppa pergi aku masih bisa bersama dengan namja yang kucintai yaitu Daesung oppa, GD oppa cinta petamaku kuharap kau akan selalu bahagia disana, aku akan doakan kebahagiaanmu selalu.

END


 Untuk Lihat FanFiction Lainnya Bisa Ke Sini ^^ :  Kumpulan FanFiction [UPDATE]  
#A3

[FF] [All] Love Game - Part 2


Love Game (Part 2 – End)


Genre : Comedy, Romance

Cast(s) : -Kwon Ji Yong (G-Dragon)

              -Lee Chae Rin (CL)
              -Ji Ho (Zico Block B)




“Cerita atau aku akan menciummu.”

.

“Mwoa?!” kedua mata kucing Chae Rin membola, seiring dengan keterkejutan yang menerkamnya tiba-tiba.

Ji Ho semakin mendekat hingga nyaris tak berjarak. Salah satu bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai kecil seakan menikmati Chae Rin yang kini menutup sepasang matanya erat-erat, “Silakan pilih, Kitty~”

Cut cut!! Chae, kamu harus melakukan sesuatu sebelum Ji Ho benar-benar melakukan hal gila! Berpikir cepat, Chae! C’mon~!!

Kedua tangan Chae Rin seolah bergerak refleks, mendorong Ji Ho menjauh darinya, “Stop, Ji!!” Gadis itu kemudian membuka kelopak matanya, melihat Ji Ho yang terjengkang di lantai. “Gimme a minute, aku akan cerita, oke?”

……



.

Dua sosok itu duduk berhadapan di salah satu sudut kafe terdekat kampus. Manik-manik mata itu saling menatap, menelusuri jawaban atas keingintahuan mereka. Seraya menyesap minumannya yang mengepul, Chae Rin memulai percakapannya dengan malas, “Oke, sekarang jelaskan maksudmu dengan aku orang yang kamu cari.”

Ji Yong menyilangkan kaki seraya menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Matanya menatap Chae Rin serius, “Aku butuh bantuanmu, Chaerin-ssi.”

“Untuk?”

“Permainan.”

Dahi Chae Rin mengernyit, bingung. “Maksudmu?”

Kali ini lelaki itu menyondongkan tubuhnya, mencoba memupus jarak yang dihasilkan oleh meja bundar diantara mereka. Suaranya melirih, seakan apa yang dikatakannya sama pentingnya dengan misi rahasia agen intelijen, “Bagaimana kalau kita pura-pura pacaran?”

Seketika saja, mata kucing Chae Rin terbelalak, dan tubuhnya hampir terjengkang ke belakang, jika dia tak mampu menjaga keseimbangannya. “Mwoaa?! Kamu gila?! Shirreo!”

Yang benar saja? Mereka baru saja saling bertegur sapa setengah jam yang lalu, dan lelaki di hadapannya ini sudah berani mengajaknya pura-pura pacaran. Gadis macam apa dia ini di dalam pikiran lelaki itu, hingga menawarinya—

“Jebal, Chaerin-ssi… Aku benar-benar muak dengan surat-surat di lokerku.” Ji Yong memohon dengan suara termanisnya, kedua tangan yang dikatupkan, dan mata membulat yang –biasanya— berhasil membuat seluruh wanita di dunia ini bertekuk lutut.

Oke, hati Chae Rin cukup tergoyahkan sekarang. Hampir saja dia mengiyakan, sebelum pikirannya kembali membawanya ke dalam akal yang sehat. No, Chae Rin! No! Pikir, Chae Rin. Kamu masih punya tugas akhir, tugas kampus, dan masih mengurusi the Most Wanted Man ini? Kuatkan hati dan jangan terpengaruh.

Dengan nada terdingin yang dia mampu, dia membalasnya tak acuh, “Shirreo.”

Ji Yong terdiam sejenak. Baru kali ini ada wanita yang resisten dengan kharismanya. Seringai khasnya terangkat sejenak, sebelum kemudian ekspresinya kembali memelas, menyadari jika gadis itu berbeda dan permainan akan menjadi lebih menarik. “Oke, Kalau begitu aku ganti aturannya. Aku akan berpura-pura mencari perhatianmu dan kamu akan berpura-pura mengabaikanku. Otte?”

Mengabaikan? Mencari perhatian? Pura-pura mendekatinya, begitu? Artinya dia tidak perlu berbohong akan statusnya. Toh selama ini dia memang menghindari Kwon Ji Yong maupun teman-temannya. “Humm… Itu lebih baik. Sampai kapan kita akan bermain?”

Seringai yang tadinya hanya nampak sekilas, kini nyata terbentuk radial di bibirnya. Yeah, Kwon Ji Yong memang selalu mendapat apa yang dia inginkan. Dia menjawab ringan, “Sampai… tidak ada surat-surat di lokerku.”

Omoo… baru saja dia lihat surat-surat itu membludak keluar dari lokernya. Mana mungkin surat-surat itu bisa habis? Impossible!

“Heee… Ji Yong-ssi, aku tahu surat-surat di lokermu begitu banyak. Malas ah. Aku tidak mau.” Chae Rin mengangkat kedua tangannya, menyerah. Yang benar saja, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memusnahkan harapan setiap gadis di seluruh penjuru kampus. Kwon Ji Yong adalah salah satu mahasiswa yang benar-benar terkenal hingga ke seluruh penjuru fakultas. Ini sama halnya dengan menunggu siput untuk berlari menuju garis finish.

“Oh, no~! Chae Rin-ssi, kamu harus membantuku, please…”

“MA-LAS. Pasti permainan ini akan sangat lama.”

“Okay, berapa uang yang kamu butuhkan?” Kwon Ji Yong melancarkan tawaran terakhirnya, meski Chae Rin di matanya tidak terlihat seperti gadis yang membutuhkan materi.

Chae Rin benar-benar geleng-geleng kepala sekarang. Oh Tuhan, dia benar-benar ingin pergi dari sini. Normalnya, dia masih menjadi anak baik jika berurusan dengan hal merepotkan macam ini. Tapi, setelah memaksanya untuk ikut game gilanya, dia menyodorkan tawaran uang? Dia pikir, gadis itu seharga tumpukan won?!

Melihat perubahan mimik Chae Rin yang terhenyak, Ji Yong menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Dia melanjutkan, “Look, aku minta maaf dengan ucapanku baru saja. Aku bukan menganggapmu— you know— tapi mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membuatmu menyetujui permainan ini. Jebal, Chae Rin-ssi. I need your help…”

Chae Rin melihat ekspresi memelas lelaki itu, dan menghela nafas panjang. Mungkin tidak ada salahnya untuk membantunya. Humm… Apa sebaiknya yang harus Ji Yong lakukan untuknya sebagai bayaran? Lamborghini? Keluaran terbaru Adidas? Fendifurs? Ah no~! Dia harus membuat lelaki itu lebih susah payah. Humm… memijatnya tiap dia lelah? Atau…

“Humm… kalau begitu, aku mau strawberry cake dan espresso coffee dikirim setiap jam 11 malam.”

“Hanya itu?” Ji Yong menatapnya tak percaya.

“Nee.” Chae Rin tersenyum mantap.

“Kamu murah sekali, Chae Rin-ssi. Aku pikir kamu akan minta barang-barang branded.”

Bibir gadis itu mengerucut, “Shut up, Ji Yong-ssi atau aku tidak mau membantumu. Lagipula barang branded itu hal yang mudah bagimu. Aku tidak mau mempermudahmu.”

“Maksudmu?”

Chae Rin hanya mengangkat bahu dan membuang muka.

“Nee nee. Arasseo. So, is it deal?”

“Nee. Ah ya, kamu cukup panggil aku Chae Rin.” Gadis itu kembali menyesap minumannya. “Ah, Ji Yong, kamu melakukan ini bukan karena menyukaiku atau membuat cemburu seseorang, kan?”

“Hah? Menyukaimu? Percaya diri sekali kamu, agasshi,” balasnya tergelak. “Aku tidak menyukaimu, tidak menyukai seseorang, dan tidak akan menyukaimu, Chae Rin.”

Kkeuutt.

Entahlah, ada rasa teremas seketika di dada Chae Rin, yang bahkan dia sendiri tak tahu kenapa. Dia hanya tersenyum tipis. “Jeongmal? Bagaimana kalau nantinya kamu menyukaiku?”

Ji Yong menghabiskan minumannya dan menatapnya dengan senyum yang hampir tak terlihat, “Aku tidak percaya cinta.”

……



.

“Jadi, hanya permainan?”

Chae Rin menghempaskan tubuhnya di sofa dan menjawab setiap pertanyaan tajam Ji Ho dengan malas, “Nee. Jadi, berhentilah menggodaku dengan masalah itu.”

Ji Ho merebahkan tubuhnya di sofa dan berbantalkan kaki Chae Rin. “Apa kamu menyukainya, Chae?”

“Entahlah, Ji. Meski aku menyukainya, itu tidak akan merubah apapun, kan?”

“Chae…” panggilnya seraya memainkan rambut gadis itu yang menggantung, menyibakkannya ke belakang telinga. Lelaki itu lalu menatapnya serius, “Bagaimana jika kamu denganku saja, Lee Chae Rin?”

Beberapa galur merah mulai menjalar, sebelum kemudian gadis itu membuang muka. “Kamu gay, Ji. I know you.”

Ji Ho beranjak dari kaki Chae Rin dan duduk di sampingnya. Lelaki itu menatap Chae Rin tepat di manik mata, mencoba menyelami gadis itu melalui dua bola kecil itu. “Bagaimana jika aku bukan gay? Will you be my girl?”

.

***

.

Ji Yong POV

Bentley-ku berhenti di depan apartemen yang sama yang aku kunjungi setiap harinya dalam satu bulan ini. Aku turun dari mobil dengan malas. Seraya menyandarkan tubuhku di pintu mobil, aku menyalakan rokok mint dan menatap jendela tanpa cahaya, dari apartemen sederhana itu.

Hey, Chae Rin belum pulang? Jam berapa ini? Aigoo, this girl…

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Chae Rin dengan cepat.

“The number you are calling—”

Dengan cepat tanganku menyentuh tombol virtual merah dan menghubunginya sekali lagi. Hingga beberapa saat kemudian, aku harus menyerah dengan suara operator tanpa nada sambung.

Aiissh! Kenapa tidak tersambung?! Masih mati?!

Kemana anak bodoh? Masih di tempat Ji Ho? Bagaimana kalau ternyata Ji Ho orang jahat, lalu terjadi apa-apa padamu, babo?!

Aigooo… Ji, kenapa kamu memikirkan anak bodoh itu?! Stop it!

Tapi, bagaimana jika pikiranku benar? Bagaimana bila Ji Ho memanfaatkannya? Bagaimana jika— aigooo… aku harus berhenti berpikir yang macam-macam.

Aku melirik kotak cake dan segelas espresso hangat di dasbor mobil, dan menghela nafas panjang.

Chae Rin, kenapa kamu begitu membingungkan?

……



Ting tong tong tooongg!!!

Aku berdiri di depan apartemennya tidak sabar. Bagaimana tidak, aku sudah menghabiskan waktuku bermain di klub malam, dan masih harus mengantarkan cake dan espresso bodoh ini. Aaiissh! Akhirnya aku tahu kenapa dia bilang membelikan sesuatu yang mahal menjadi lebih mudah untukku daripada hanya sekedar camilan seperti ini. Tentu saja, siapa yang mau bersusah payah mengantarkan makanan tengah malam begini, heh! Lagipula kenapa dia harus menyuruhku tengah malam, sih?! Merepotkan saja!

Chae Rin keluar rumahnya dengan celana training dan jaket tebal, seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya. Angin musim gugur di malam hari memang tidak pernah bersahabat bagi tubuh mungil sepertinya.

“Sudah lama?” tanyanya sambil menarik pagar. Matanya kemudian menelisik tubuhku dari rambut hingga ujung sepatu. “Kamu dari mana? Pakaianmu lengkap sekali.”

Aku menyodorkan bungkusan yang sejak tadi aku bawa padanya dengan ekspresi sebal. Tentu saja sudah lama! 10 menit, hellloooo~! Kamu membuat Kwon Ji Yong menunggu 10 menit, Chae Rin!

“Klub malam.”

“Uuukkh… kamu bau alkohol.” Tangannya bergerak menutup hidungnya rapat-rapat. Bibir tipisnya kemudian menyunggingkan senyum kecil, berkata padaku seraya berbalik masuk, “Masuklah dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu.”

Aku mengikutinya masuk. Apartemen itu tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali seorang diri. Tak beberapa lama kemudian, dia kembali seraya menyodorkan minuman hangat dan sepotong strawberry cake yang aku bawa. “Minumlah sebelum kamu pulang. Udara hari ini dingin sekali.”

Gadis itu kemudian memotong kecil cake-nya sendiri dan memakannya seolah dia baru pertama kalinya memakan makanan itu. “Cake-nya tidak kamu makan? Enak lho… Gomawoyo, Ji…”

Cake itu sebenarnya cukup menggoda jika perutku tidak mual karena alkohol. Euhh… harusnya aku tidak meminum apapun sebelum ke sini.

“Seleraku hilang setelah seseorang melemparku dengan cake ini tadi pagi,” sindirku seraya menyesap teh yang dia sajikan padaku.

Mata kucingnya terbelalak sejenak, dua tangannya menangkup menutupi bibir tipisnya, “Omoo… jeongmal mianhae, Ji…”

Aigooo… kenapa gadis ini jadi terlihat lucu? Melihatnya panik, rasanya aku semakin tergelitik menyindirnya. Haha!

“Kamu tahu, Chae. Rasanya punggungku sakit sekali. Tadi pagi seseorang membantingku keras. Astaga… gadis macam apa itu, ya?”

Chae Rin sekarang makin gelagapan. Pipi yang sedari tadi merona karena espresso hangat itu, sekarang semakin dipenuhi semburat kemerahan. Kemudian dia menggembungkan kedua pipinya sebal. “Yaa! Mianhae… itu refleks pertahanan diriku, Ji…”

“Itu kamu?”

“Yaahh!!!”

“Haha… Tapi kan tidak perlu membanting segala. Sakit!”

Matanya memutar, sebelum akhirnya menatapku jengkel, “Bukannya kemarin kamu bilang, aku boleh melakukan apa-apa untuk aktingku? Jadi bukan salahku jika kamu kesakitan sekarang.”

“Oh begitu? Bagaimana kalau aku besok menciummu?”

“Heh! Awas kalau kamu melakukannya!!” dia melayangkan kepalan tinjunya ke udara sambil menyipit padaku.

Aku tertawa kecil dan melanjutkan, “Kan aku boleh melakukan apa saja untuk aktingku.”

“Uuukh… Mianhae…” bibirnya sekali lagi mengerucut. Dia berdiri dari sofanya dan duduk di belakangku. “Bagian mana yang sakit?”

Eh? Mau apa dia?

“Hei heii! Mau apa kamu?!”

“Iiisshh… orang ini!” umpatnya jengkel, tangannya meneka punggungku kuat dengan kuku panjangnya.

“Hei! Appoo!!”

“Makanya diam dan menurutlah~! Mana yang sakit?”

“Di sini,” aku menunjuk bagian punggungku. Dia tak berkata apapun, namun dapat kurasakan tangannya memijatku pelan. Aku menyeringai pelan tanpa disadarinya.

Lumayanlah, hitung-hitung aku memang lelah dari klub.

“Ji, mianhae…” ucapnya seraya terus menekan titik-titik di punggungku.

“Hmm… Gwenchana. Lagipula dengan begitu akting kita akan semakin dipercaya kan?”

“Hey, apa suratmu sudah berkurang?”

“Molla. Lihat saja besok.” Hening sejenak, sebelum aku kemudian bertanya usil, “Hey, besok enaknya aku melakukan apa, Chae?”

Matanya menyipit, “Jangan melakukan yang aneh-aneh!”

Aku berbalik, hingga kini aku bisa menatap ekspresi lucunya lebih dekat. “Waeee?”

“Aku malu, Ji…”

“Bagaimana kalau aku berdiri di depan gedung utama, mengangkat papan besar dengan tulisan ‘I’m falling in love with you’ tinggi-tinggi, dan teriak, ‘LEE CHAE RIN~! SARANGHAEEE…!’ Otte?” tanyaku usil seraya memperagakan pa yang akan kulakukan.

Apa jadinya kalau aku besok melakukan hal itu?

Dua manik matanya kini melebar, pipinya bersemu merah. Tangannya meninju perutku keras dan berseru, “Yaa!! Awas kalau kamu berani!”

“Lee Chae Rin~! SARANGHAEEE~!” aku memperagakan sekali lagi dengan lebih menjiwai. Kedua tanganku bahkan kubentuk hati di atas kepalaku.

“YAAA!!!”

……



Aku tersenyum kecil mengingatnya. Entahlah, rasanya aku tak pernah bisa sesantai itu berbicara, selega itu tertawa selain di depan Young Bae maupun Dara. Di kampus, Kwon Ji Yong harus menjaga peran good boy, seakan aku adalah robot yang akan selalu tersenyum. Walau aku tahu, sebenarnya aku tak perlu melakukannya. Dan ketika klub malam mengenalku sebagai G-Dragon, seorang worst boy ever, aku hanya ingin melepaskan sisi gelap yang selalu tertutupi. I know, I’m not a good boy, but nice.

‘Cemburu pun tak apa, namanya juga cinta.’

Ucapan Dara menggaung tanpa henti dalam benakku. Cemburu? Cinta? Rasanya aku hampir tak bisa mengenal arti dari kata itu. Tidak, bukan karena trauma seperti halnya orang lain yang membuatku nyaris tak pernah mengakuinya. Namun, dengan begitu mudahnya setiap wanita menyerahkan tubuhnya padaku, seakan cinta tak pernah ada maknanya, bagaimana mungkin aku masih bisa mempercayainya?

No, no. aku tidak mencintai siapapun. Tidak juga Chae Rin.

Hey babo! berhentilah berlari dalam kepalaku, Chae!

Akhirnya aku membuka pintu mobil, mengambil bungkusan yang selalu aku berikan untuk gadis itu, dan meletakkannya di depan pintu apartemen Chae Rin. Kemudian, aku kembali dan membuang punting rokoknya tepat di kakiku, menginjaknya hingga tak berbentuk. “Night, Hunchae,” salamku lirih sebelum melajukan mobil menjauh.

.

***

.

Normal POV

Chae Rin memilah-milah foto yang baru saja tercetak seraya berjalan menuju ruangan klub bersama Ji Ho di sampingnya. Keduanya nampak serius dengan lembaran-lembaran abadi di tangan mereka. Beberapa foto diantaranya terlalu kabur, dan yang lainnya memilki komposisi yang tidak sesuai.

“Yang ini bagus, Chae…” Ji Ho menunjukkan salah satu foto di tangannya. Foto sepasang merpati yang saling mematuk kecil. Indah, menakjubkan. Seakan dunia hanya tercipta untuk pasangan kecil itu.

“Nee. Aku juga suka dengan yang itu.” Chae melirik sejenak mengamati foto itu, sebelum kemudian dia menekuri kembali foto-foto di tangannya. “Bagaimana dengan yang ini?”

“Humm… aku pikir kontrasnya kurang dan terkesan gelap. Mungkin sedikit brightness dan kontras akan membuatnya lebih baik. Nanti aku perbaiki lagi.”

Chae Rin mengangguk mengerti.

“Chae, bagaimana dengan ini?” Ji Ho menyodorkan satu foto di tangannya. Foto itu hanya menampakkan Chae Rin dengan bibirnya yang mengerucut cemberut. Lucu, menggemaskan, polos.

“Ji Hoooo… seriuuusss…” gadis itu seketika cemberut, sama seperti foto dirinya sendiri.

“Haha… nee nee,” sekali lagi Ji Ho mengusap kepala Chae Rin seakan anak kecil.

.

Ji Yong tak bisa menahan emosi yang meluap dalam dirinya sendiri. Dia sendiri masih saja tak mengerti kenapa dia harus begitu emosi pada dua orang yang melenggang menjauhinya itu. Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa hal-hal seperti itu bukan masalah untuknya? Akting seperti yang selalu dimainkannya di kampus?

Dia mungkin bisa membuat semua orang percaya dengan dalihnya, kecuali dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia membuat dirinya sendiri percaya ketika dia pun merasakan rasa terbakar di dadanya yang tak mampu berkompromi.

Lelaki itu mempercepat langkahnya mendekati mereka, menyergap lengan atas Chae Rin, membuatnya terkejut bukan main, “Yaa!” Belum cukup dengan itu, Ji Yong kini menyeretnya masuk menuju satu ruangan kosong terdekat dengan mereka. Dia menutup pintunya dan menyudutkan Chae Rin antara pintu dan tubuhnya. Kedua tangannya diletakkan kokoh di antara tubuh gadis itu.

“Yaa! Appoo!!” Chae Rin mengusap tangannya sendiri, sebelum kemudian menatap Ji Yong dengan marah. “Wae?”

“Kamu menyukainya?” Ji Yong menatapnya dingin dengan nada suara yang mampu membekukan seluruh ruangan.

“Mwoa??”

“Jawab aku, Chae. Kamu menyukainya?” nada suaranya meningkat, setengah berteriak. Matanya menusuk kian tajam, seakan mampu menembus hingga otak.

“Ini bukan urusanmu, Ji.”

“Ini urusanku.”

Chaerin mendengus keras, sebeum kemudian dia membalas tatapan Ji Yong dengan ketajaman yang sama. “Hah! Sejak kapan? Seingatku kita tidak ada hubungan apa-apa. Dan ingat, Ji Yong, semua yang kita lakukan selama ini adalah permainan yang kamu ciptakan. Dan seingatku, aku tidak harus mengatakan kepadamu tentang perasaanku.” Dia mendorong tubuh lelaki itu menjauh hingga telapak tangannya terlepas dari pintu, “Aku tegaskan sekali lagi, ini bukan urusanmu, Kwon Ji Yong-ssi!”

Gadis itu membuka kasar pintu yang sejak tadi disandarinya, menatap marah Ji Yong, dan meninggalkannya bersama pintu yang tertutup keras.

BLAMM!

.

***

.

Chae Rin POV

From : Babo

Chae Rin, jeongmal mianhae…

.

From : Babo

Chae… Jeongmal mianhae. Jawab teleponku, ppallii!!!

.

From : Babo

Chae Rin, aku kan sudah minta maaf. Kamu ini!

.

From : Babo

jawab teleponku, Lee Chae Rin!

.

Aku membaca semua pesan ponselku dengan malas. Rasanya hampir semua pesannya dari orang aneh itu. Tanganku menggeser kursor layar hingga ke bawah, dan yang kulihat masih dengan pesan orang yang sama. Sebelum membaca yang lainnya, yang masih berjubel di kotak pesannya, sekali lagi nada deringnya berbunyi. Okaayy… still, The Most Wanted Man.

Aiiishh… apa sih maunya?

Memangnya dengan aku mengikuti permainan bodohnya itu, lalu otomatis dia berhak mengatur hidupku begitu?! Enak sekali!

Lagipula, untuk apa Ji Yong marah padaku? Apa urusannya denganku? Bukankah aku bebas bergaul dengan siapa saja? Bukankah ini semua hanya permainan? Bukankah— iiissh… dasar orang aneh!

Apa dia menyukaiku? Mungkinkah??

Astaga… berpikir apa aku ini?! Tidak mungkin, Chae Rin. Tidak mungkin! Kan dia sendiri yang mengatakan bila dia tidak akan menyukaiku. Dia tidak percaya cinta. Chae Rin babo-ya~! Untuk apa kamu berharap dia menyukaimu?!

Lalu… kenapa dia marah…

.

……



“Yaaa!!! Kwon Ji Yong!” hardikku seketika ketika dia masih di depan pintu apartemenku. Aku memasang ekspresi paling sebal yang aku bisa, seraya kedua tanganku terlipat di dadaku dan menatapnya marah.

“Nee? Wae?” dahinya berkerut bingung.

Sikap polos bak malaikat inilah yang aku benci darinya hari ini. Catat, Lee Chae Rin!

“Apa maksudmu teriak di depan gedung tadi siang?! Pakai bawa-bawa papan itu segala! Kenapa kamu melakukan rencana bodoh itu, Ji?!!!”

Look, dia kini bahkan hanya menggaruk kepalanya, yang bahkan aku yakin tidak gatal. “Oh itu… kan terserah aku mau melakukan akting apa, Chae. Lagipula aku sudah bilang padamu kan sebelumnya…”

“Oh yeah. Kamu sudah bilang,” jawabku sarkatis, sebelum melanjutkan, “TAPI TIDAK PERLU DILAKUKAN JUGA, KWON JI YONG~!!”

“Nee nee nee.” Lelaki itu menyodorkan bungkusan ajaib itu padaku. “Nih cake-mu hari ini. Jangan marah terus, nanti matamu semakin sipit karena keriput.”

Aku menerima bungkusan itu dan berbalik masuk ke dalam apartemen. Aku yakin, lelaki itu sudah mengikuti di belakangku.

“Chae-ah…”

“Hmm?”

“Yang bersamamu tadi siapa?”

Aku menyerahkan gelas berisi coklat hangat padanya seraya menyesap espresso-ku. Kenapa dia bertanya? Jangan-jangan… Ah, ani Chae Rin. Apapun pikiran bodohmu, lupakan sekarang juga!

“Teman klub.”

“Dekat sekali.”

“Tentu saja. Wae, Ji? Cemburu?” tanyaku dengan tawa lebar memancingnya. Apakah dia akan berkata iya? Atau…

“Ha ha ha. Lucu sekali, Lee Chae Rin,” jawabnya sarkatis. “Aku hanya bertanya, babo! Mana mungkin aku cemburu hanya gara-gara kamu. Lagipula aku sudah bilang kan, aku tidak percaya yang namanya cinta. Apalagi jika cinta itu kamu. Impossible!”

Walau aku sudah tahu jawabannya, walau aku tidak mengharapkan jawabannya, tapi tetap saja. Sakit itu masih ada sampai rasanya menembus hingga memberikan lubang curam di dada kiriku.

Smile, Chae Rin… smile…

“Nee nee. Arasseo, Ji,” jawabku kemudian seraya menyesap minumanku sekali lagi. “Habiskan minumannya, Ji.”

……



.

See, dia sendiri yang bilang dia tak akan percaya pada hal-hal seperti ini. Tapi kenapa…? Geez… aku benar-benar tidak mengerti pikiran seorang Kwon Ji Yong.

.

***

.

Ji Yong POV

Lautan manusia di dance floor masih bergerak hampir selaras dengan musik yang dimainkan oleh Kush. Young Bae dan Dara masih saling bercumbu di sudut ruangan, begitu pula dengan Seung Hyun dan tunangannya, Eun Kyo. Dae Sung, dan Seung Ri sepertinya masih memburu gadis-gadis untuk bertekuk lutut di hadapan mereka. Dan aku? Aku masih duduk dengan martini di tanganku.

Berkali-kali Teddy dan Kush menawariku untuk mengambil posisi di depan disc jockey, yang akhirnya kutolak dengan alasan malas. Beberapa wanita tiba-tiba memelukku dari belakang, atau sekedar duduk di sampingku, hanya untuk kutanggapi dengan dingin, hingga mereka memutuskan untuk pergi mencari lelaki lain.

Entahlah, rasanya pikiranku tak ubahnya dengan kaset yang terus berputar tanpa henti, mengulang kejadian tadi siang. Untuk apa aku harus semarah itu? Untuk apa aku membawa Chae Rin pergi?

“Kamu menyukainya?”

Untuk apa aku bertanya seperti itu?

Kenapa aku melakukan permainan ini? Untuk menghindari kejaran wanita-wanita liar itu.

Kenapa aku memilih Chae Rin? Karena dia tidak pernah tertarik padaku.

Kenapa aku bisa tahu dia tertarik padaku? Karena aku memperhatikannya, dan dia bahkan tak pernah melirikku. Sedangkan yang lain, bahkan aku tak perlu susah-susah mencari perhatian, mereka sudah mengejarku bak orang sakit jiwa.

Kenapa aku memperhatikannya? Karena dia terlihat polos saat diam, terlihat menggemaskan ketika tersenyum. Dan dia seakan untouchable, elegan, berkelas. Lihat saja, jika dia sama saja seperti orang lain, dia mungkin akan langsung menyetujui ketika aku mengajaknya pura-pura pacaran. Tapi nyatanya toh tidak. Dia bahkan lebih memilih espresso dibandingkan jaket Balmain yang bisa aku bawakan hanya dengan menjentikkan jari.

“Hah! Sejak kapan? Seingatku kita tidak ada hubungan apa-apa. Dan ingat, Ji Yong, semua yang kita lakukan selama ini adalah permainan yang kamu ciptakan. Dan seingatku, aku tidak harus mengatakan kepadamu tentang perasaanku.”

Yeah, pada akhirnya aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang game partner.

Setelah berulang kali menulis pesan dan menelepon tanpa ada jawaban dari Chae Rin, sudah bisa kupastikan, gadis itu marah besar padaku. Astaga, apa yang kamu lakukan Kwon Ji Yong?!

Aku menenggak habis martini dalam satu kali teguk, dan mengambil kunci mobil yang kugeletakkan di meja.

“Mau kemana, Ji?” tanya Young Bae ketika melihatku berdiri.

“Pulang.”

“Hari ini kamu tidak ke tempat Chae Rin, Ji?” kali ini Dara yang mengambil suara, membuatku tak ayal menoleh padanya. Seingatku aku tak pernah bercerita apapun pada mereka. Kenapa mereka bisa tahu?!

“Bagaimana kalian bisa—”

“Spying~” jawabnya melodik, sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku.

Astaga, harusnya aku tahu, teman macam apa mereka ini!! ><

“Aiisshh… kalian ini!”

.

***

.

Normal POV

Chae Rin terbangun dan menyentuh kepalanya yang seakan berputar. Segala rangkaian kejadian beberapa hari ini mengoyakkan ketenangannya, dan otaknya masih tak berhasil mencerna setiap komponennya.

Oh God, I need a breath…

Gadis itu turun dari ranjangnya, memakai jaket dengan tudung berbulunya. Kakinya melangkah keluuar dari apartemennya. Dia merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara hingga memenuhi ruang paru-parunya.

“Euh…”

Dahinya mengernyit seketika. Euh? Itu bukan suaranya, lalu itu suara… siapa?

Bola matanya mengedar ke seluruh penjuru, dan menemukan… Kwon Ji Yong. Lelaki itu tidur dalam keadaan duduk dengan punggung dan kepala yang bersandar di dinding apartemennya. Salah satu kakinya terjulur luirus, sementara yang lain tertekuk untuk menumpu tangan kanannya. Chae Rin berjongkok di samping Ji Yong dan menepuk pundaknya pelan, “Yah! Ireona~!”

Tak bergeming. Lelaki itu bahkan seakan tak terusik.

“Yaahh!”

Aiissh… Chae Rin mengerucutkan bibirnya sebal. Ada-ada saja lelaki itu, sudah merepotkannya hingga ke titik nadir, sekarang bahkan beraninya dia tidur di depan apartemennya.

“Lee Chae Rin…”

Huh? Apa yang ada di mimpinya hingga lelaki itu menyebut namanya?

“Chae, mian…”

Kkeuutt. Jantung Chae Rin seakan terlontar berkilometer ketika dia mendengar namanya disebut, dan kini rasanya amarahnya melumer tak bersisa saat kata maaf itu terlepas dari bibirnya, keluar langsung dari alam bawah sadarnya.

Kepala Ji Yong bergerak perlahan semakin ke samping, seakan menatap langsung Chae Rin dalam jarak yang teramat dekat. Sejenak gadis itu melompat kecil karena terkejut, hingga dia menyadari kedua mata itu masih terlelap damai. Dia terdiam, mengamati tekstur wajah tanpa cela di depannya.

Wajah oval, mata almond yang tertutup, pipi yang sedikit chubby, dan bibir yang biasanya selalu terpulas oleh senyum palsu bak anak kecil itu, kini hanya mengulas lengkung kecil. Ekspresi damai yang jarang diperlihatkannya. Oh Tuhan, betapa sempurnanya…

.

Kedua pelupuk mata Ji Yong tiba-tiba terbuka, mempertemukannya dengan dua manik mata Chae Rin yang membola. Seketika saja, jantung gadis itu seakan sudah menghilang dari rongga dadanya. Belum cukup dengan itu, kini tangan kiri Ji Yong yang sedari tadi menjulur lemah di lantai, melingkar di pinggang kecilnya, menariknya untuk lebih dekat dengan dirinya.

“Chae Rin…”

Belum selesai gadis itu bereaksi dengan segala yang berlalu begitu cepat, kini tangan kanan Ji Yong menyentuh dagunya, dan mendekatkannya hingga kedua puncak kepala itu bersentuhan pelan, dalam jarak yang hampir musnah itu, lelaki itu berbisik pelan, “I love you…”

Kedua bibir itu… bersentuhan. Ringan. Penuh posesi.

.

“Chae…”

Pikiran Chae Rin seketika kembali terkumpul. Ji Yong masih tertidur lelap di hadapannya, dan astaga… apa yang baru saja dia pikirkan?!

Oh my God! Oh my God! I really need breath!

Dia berdiri dan menarik nafas hingga klimaks, sebelum akhirnya dihembuskan perlahan. Kedua pipinya bersembur kemerahan, malu sendiri dengan imajinasinya.

Apa yang aku pikirkan?! Lee Chae Rin babo! Babo! Berciuman? Habis menonton drama dari mana aku ini?! Kamu marah. Kamu harusnya marah, Chae Rin~!

Bola mata Chae Rin berputar sejenak sebelum akhirnya kembali melihat Ji Yong. Dia menghela nafas lelah. Betapa hidupnya tenang sebelum mengenalnya, dan betapa jantungnya tak pernah berpacu ringan ketika akhirnya lelaki itu datang.

Kakinya menendang tubuh Ji Yong tak sabar, “Yaa!! Kwon Ji Yong-ssi!! Ireonaa~!! Ppalli!!”

“Euh…” Perlahan kedua mata Ji Yong terbuka. “Chae…?”

“Ireona, ppallii! Sebelum kamu aku buang ke tempat sampah sekarang!”

Ji Yong dengan cepat berdiri di hadapan Chae Rin. Namun belum sempat bibirnya berucap sesuatu, Chae Rin berbalik masuk menuju apartemennya. Gadis itu baru saja akan menutup pintunya, ketika tangan Ji Yong menghalanginya, masuk melalui celahnya, “Lee Chae Rin! Dengarkan aku!”

“Shireo!”

“Yaa! Buka pintunya!”

“Shireo!”

“Yaa!” satu hentakan dari tangan Ji Yong dan pintu itu seketika terbuka lebar. Chae Rin berdiri di hadapannya tanpa menatapnya. “Dengarkan aku, Chae!”

Chae Rin berbalik masuk, tak menghiraukannya. Ji Yong membuntutinya di belakang, menuju dapur kecilnya. “Lee Chae Rin, aku menunggumu sejak tadi malam. Kamu tidak mengangkat teleponku, jadi aku pikir… kamu tidak di apartemen. Dan aku… menunggumu. Chae. I know, aku terlalu kasar kemarin. Aku… hanya tidak suka kamu dekat dengan Ji Ho.”

Chae Rin tak mengatakan apapun. Seakan tak mendengar apapun, dia mulai menyalakan coffee maker-nya.

“Mulai sekarang jangan dekat-dekat Ji Ho, key.”

Gadis itu menghela nafas pelan, dan menatap Ji Yong dingin, seakan sekilas pandangannya saja mampu membekukan tubuh lelaki itu, “Ji, sudah kubilang, kamu tidak punya hak apapun atas diriku, dan apapun yang aku lakukan. Akhiri permainan bodoh ini.”

“Tapi—”

“Okay, aku anggap permainan ini berakhir. You know the door, right?”

Ji Yong berjalan melewati bar dapur, dan menarik lengan Chae Rin, memaksanya untuk menatapnya, “Lihat aku, Lee Chae Rin!”

Chae Rin hanya ingin permainan ini berakhir, dan menjauh dari lelaki itu. Tidakkah dia mengerti? Betapa dia lelah dengan permainan bodoh ini, dengan sikap seakan Ji Yong adalah pemiliknya. Memang dia mencintainya, tapi bukan berarti dia harus menyerahkan kebebasannya untuk seseorang yang bahkan tak berminat padanya.

Lelaki itu hanya ingin bermain-main dengannya. No feeling, just play around.

“Kamu pikir kamu siapa, Kwon Ji Yong?!”

“Aku? Orang yang terkena karma atas perkataanku sendiri. Aku menyukaimu, Lee Chae Rin.”

Tak pelak, jantung Chae Rin sekali lagi terlontar, dan mungkin kali ini tak kembali. “Hah!” Dia memutar bola matanya sebelum akhirnya kembali menatap Ji Yong tajam, “Permainan ini berakhir. Tidak mengertikah kamu?! Cukup dengan ucapan-ucapan omong kosongmu!”

Wajah Ji Yong mengeras, seakan menekan emosi dalam tubuhnya. Bagaimana dia harus membuktikannya pada gadis itu, jika hidupnya tak pernah lagi sama. Ada rasa yang bercampur ketika memikirkan gadis itu.

Lee Chae Rin, why you don’t believe me?

“Ya, Chae Rin. Permainan ini berakhir. Kukatakan sekali lagi, it’s game over. Sekarang, aku akan mengatakannya sekali lagi padamu. Aku menyukaimu. Johae. Saranghae.

“Dan ini bukan permainan.”

Chae Rin terhenyak. Tidak mungkin. Seorang Kwon Ji Yong, menyatakan… padanya?

“Ha ha ha,” tawanya sarkatis. Kemudian kedua tangannya menyusuri resleting jaket Ji Yong yang terbuka dan menutupnya hingga leher seraya melanjutkan,“Sekarang kamu sedang menjadi G-dragon? Lebih baik berhentilah bermain-main dengan perasaan orang lain. Pulanglah.”

“Berhentilah meragukanku, Hunchae.” Tangan kanan Ji Yong menyentuh dagunya, dan mendekatkannya hingga kedua puncak kepala itu bersentuhan pelan, dalam jarak yang hampir musnah itu, lelaki itu berbisik pelan, “I love you…”

Waktu seakan melambat ketika kedua bibir itu, bersentuhan ringan. Chae Rin bisa merasakan perasaan yang meruah, tak lagi terkatakan oleh rangkaian kalimat bertele. Lelaki itu menginginkannya.

Bagi Ji Yong, mungkin kecupan ringan seperti ini adalah hal yang terlampau biasa, namun menjadi hal yang gila, ketika dia melakukannya bersama game partner-nya, yang bahkan dia tak tahu apakah Chae Rin akan membalas perasaannya. Entahlah, dia tidak berani arti dari ekspresi Chae Rin yang bahkan hanya terdiam, terhenyak.

Tangan gadis itu kemudian melingkari leher Ji Yong, membalasnya dengan kecupannya. Tangan lelaki itu merengkuh punggung Chae Rin, menariknya lebih dekat, dalam sentuhan yang lebih dalam.

Ada banyak hal yang bahkan tak bisa dijelaskan dalam kata. Namun keduanya mengerti, bahwa masing-masing dari mereka menginginkan satu sama lain.

Ji Yong menyentuh kedua lengan Chae Rin dan mendorongnya pelan. “Sekarang, kamu percaya?”

Chae Rin terdiam. Bernarkah seorang Kwon Ji Yong menciumnya? Benarkah…? Ini tidak mungkin. Ini sama persis seperti bayangannya. Ataukah memang segala yang berlangsung masih hanya imajinasinya?

Tak percaya, tangan Chae Rin mengayun keras, memukul lengan Ji Yong hingga lelaki itu mengaduh, “YAA!! Lee Chae Rin! Appooo!”

Senyum gadis itu terulas dari telinga hingga telinga. Ternyata bukan mimpi.

.

***

.

Ji Ho POV

“Jadi, menurutmu lebih baik kita pakai foto ini untuk kompetisi internasional kali ini?”

Aku mengangguk mantap ketika Chae Rin memainkan satu foto di tangannya. “Nee, kitty. Kita pasti menang dengan foto itu.”

Dia menghela nafas sebal dan meletakkan foto itu di meja, “You know, Ji. Aku tidak suka foto itu. Kamu memperalatku!”

“Haha… tidak sepenuhnya, Chae. Kamu menyetujui game kecil kita,” ucapku seraya mengacak-acak rambutnya. Kurasakan kedua sudut bibirku terangkat ketika melihatnya menggembungkan pipinya.

Pintu ruangan klub tiba-tiba terbuka, dan The Most Wanted Man, begitu gadis di sampingku ini menyebutnya, masuk seraya mengeluarkan seringai anak kecilnya yang terkenal itu. “Hunchae, sudah selesai?”

Hunchae?

Dahiku mengernyit bingung, sebelum kemudian sudut mataku menangkap senyum lebar Chae Rin. Hum… sepertinya ada yang belum aku tahu di sini…

“Nee. Ayo pulang,” balasnya ceria. Dia lalu mengalihkan pandangannya padaku dan berkata sambil menampilkan tawa kecilnya hingga membentuk dua croissant di mata kucingnya, “Ji Ho, aku setuju denganmu. Foto itu, harus kuakui, sangat bagus. Jadi, aku bisa pulang sekarang kan? Annyeong Ji.”

Ji Yong mengulurkan tangannya pada Chae Rin yang tak perlu waktu lama untuk disambut oleh tangan mungil gadis itu. Tawa kecil itu kian lebar ketika dua manik mata itu bertemu dan Ji Yong mengecup puncak kepalanya. Sesaat kemudian, mereka berjalan menjauh dariku dan ruangan.

Chae Rin, sesaat sebelum mencapai pintu, mengulurkan tangannya ke belakang pinggang Ji Yong, dan membentuk huruf ‘V’ dari jari telunjuk dan tengahnya, ditujukan padaku.

Aku tersenyum selebar-lebarnya kemudian. Begitu pula dengan Chae Rin, walau aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya secara langsung.

Mission accomplished.

.

……



“Tidak ada yang tahu bila aku gay. Dan… bagaimana jika aku bukan gay? Will you be my girl?”

Aku menunggu jawaban Chae Rin, tapi sepertinya gadis itu terlalu dalam menghilang dalam kehenyakan. Bagaimana aku harus menggambarkannya? Dia tetap menggemaskan dalam bola matanya yang membola, tapi masih saja menyakitkan. Aku tahu, pada akhirnya, dia tidak akan menjawab pertanyaanku.

Aku tersenyum pahit untuk beberapa nano detik yang tidak mungkin disadarinya, sebelum kemudian…

CKREEKK!!!

Sebuah kamera SLR yang sudah aku atur dengan remote di tanganku mengabadikan peristiwa kecil itu.

Chae Rin tak lagi bisa menutup keterkejutannya sekarang. Dia mendorongku keras dan mengomel dengan nafas memburu, “Yaa!! Apa-apaan kamu ini?! Kamera?! What the—”

Aku menyeringai nakal, cara terbaik untuk menyembunyikan senyum getirku. “Hehe… mian Chae. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengabadikan ekspresimu. Itu lucu sekali!”

“Itu tidak lucu, Ji!” gadis itu, seperti biasa, mengerucutkan bibirnya dan membalikkan badannya memunggungiku. Hey, itu bukan cara marah yang keren, Chae!

Tanganku menarik salah satu bahunya untuk kembali menatapku, “A’right, Chae. Serius, kamu menyukai Ji Yong, kan?”

Dia mengangguk pelan.

“I have a lil’ game. Mau bergabung denganku?”

“Oh no. another game? Permainan apalagi ini, Ji?”

Aku mengulum senyum dan berkata, “You’ll love it. Bagaimana kalau… membuat Kwon Ji Yong cemburu?”

……



.

Aku mengambil foto yang akan kami ikut sertakan dalam lomba. Fotoku dengan Chae dalam jarak yang hampir tiada. Dengan ekspresi terhenyaknya, dan mimik berharapku, dan terbalut dalam siluet hitam yang terpantul dari jendela rumahku.

Stupid confession, Ji Ho.

Yeah, mungkin sebelumnya memang aku gay, tapi gadis itu merubahku. Bagaimana kalau dia tahu aku bukan gay? Bagaimana kalau dia tahu, pernyataan itu… adalah yang sebenarnya?

Game over.

Kali ini permainan benar-benar berakhir. Permainan Chae Rin dengan Ji Yong, permainanku dengan Chae Rin, dan permainanku sendiri dengan perasaanku.

Sesaat kemudian rokok yang baru saja aku nyalakan sudah berhasil membuat kepulan asap putih dan memenuhi ruangan klub, sebelum akhirnya keluar menuju celah jendela. Mataku menyusuri lalu lalang manusia dari balik kaca jendela, dan menyeringai puas.

Humm… setelah ini, game apalagi yang aku mainkan?


-Tamat-

Part 1 ada di sini ^^ - Part 1 

Sumber : Fanfic-ALL-Korean-STAR

Untuk Lihat FanFiction Lainnya Bisa Ke Sini ^^ :  Kumpulan FanFiction [UPDATE]   
#A3

[FF] [All] Love Game - Part 1

Love Game (Part 1)


Genre : Comedy, Romance

Cast(s) : -Kwon Ji Yong (G-Dragon),
              -Lee Chae Rin (CL),
              -Ji Ho (Zico Block B)






Lorong kampus yang semulanya lenggang terpenuhi dengan hiruk pikuk ketika satu ruangan di beberapa sisi lorong membubarkan kelasnya. Salah seorang diantara mereka melenggang malas, seraya salah satu lengannya membetulkan letak ranselnya. Sudut matanya melirik ke balik jendela, saat angin berhembus dan mengajak dedaunan sewarna emas untuk ikut bersamanya. Langkahnya terhenti di depan loker, diikuti dengan hembusan nafas setengah hati dari bibirnya.

Haruskah aku membukanya? Oke, Ji Yong, ini bukan yang pertama kalinya. Hana… dul… set…

Perlahan jemarinya memutar kunci loker dan…“OMOO!!”

Ji Yong hampir terjengkang seketika, ketika puluhan surat yang memenuhi lokernya berhamburan keluar dan menampar keras wajahnya dengan cepat. Beberapa diantaranya berjatuhan di ujung sepatunya. Dia melirik segala kertas itu dengan malas. Betapa tidak, semua surat yang menumpuk di lokernya itu adalah rutinitas yang tak pernah terlewat dari harinya.

Tangannya masih mengambil surat-surat yang tersisa dalam lokernya ketika seseorang tiba-tiba berdiri di sebelahnya dan bersandar di loker sampingnya. “Surat cinta lagi?”

Ji Yong memutar bola matanya, menatap sahabatnya yang mengulum senyum, “Apalagi?”

Young Bae memunguti surat yang berserakan di lantai dan mengaturnya seperti kipas dan mengibas-ngibaskannya, “Haha… ternyata hal-hal seperti ini masih ada ya? Lagipula, bukankah seharusnya kamu sudah terbiasa, Ji?”

“Tetap saja.” Ji Yong menutup pintu lokernya dan kembali menatap Young Bae sebal, “Kenapa mereka begitu resisten sih dengan penolakanku?”

“Mau bagaimana lagi, kalian ini kan elite kampus,” sebuah suara melodik menimpali dengan santai, sebelum kemudian Young Bae merangkulnya masuk dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya. “Hey, Bae. Berapa surat yang kamu terima hari ini?”

“Humm… molla.” Young Bae berbisik pelan, “Aku tidak pernah menghitungnya setelah ada kamu, Dara.”

“Tidak percaya.”

“Jinja? Perlu aku buktikan?”

Ji Yong menjentikkan jarinya sebal, dan menatap mereka malas, “Oh noo, guys. Kita masih di kampus and puhreaasee… do your ‘business’ at home.”

Galur merah seketika menjalari pipi Dara diikuti dengan gelak tawa dari kekasihnya. “Wae? Iri?”

“Ani.”

“Haha… bilang saja, Ji. Aku tahu kamu iri padaku,” sindir Young Bae seraya mengecup pipi merona gadisnya.

“Ji, kenapa tidak kamu terima saja salah satu dari mereka?” tanya Dara seraya membaca sekilas surat-surat yang dia ambil dari tangan Young Bae.

“Tidak berminat.”

“Huuu… hidupmu terlalu datar, Ji…”

“Yeah, Ji. Wanita yang kamu temui di klub tidak akan memuaskan hatimu.”

“Terserah.” Ji Yong masih saja menimpali dengan setengah hati ketika sesosok gadis dengan surai coklat keemasan melintas di sampingnya tanpa menghiraukannya. Bola matanya dengan cepat berputar hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.

Oh yeah, she is.

“You need the one, Ji…”

“Yes, you can’t happy completely without love.”

Dia mengalihkan pandangannya sekilas pada Dara dan Young Bae yang masih saja mengomelinya tanpa jeda, “Arasseo, Dara, Young Bae. Mencari pacar, kan? Sekarang, aku pergi dulu. Bye~” ucapnya menutup mulut mereka sebelum akhirnya dia berbalik meninggalkan loker dan mengejar gadis itu.

.

***

.

Helaian coklat keemasan itu masih saja menari ketika sang pemilik memilih untuk berhenti melangkah. Dia menengadahkan wajahnya dan merasakan angin musim gugur melewati sekujur porinya. Mata kucingnya menutup sejenak sebelum kemudian dia merapatkan coat coklatnya dengan capuchon dari wol. Angin musim gugur tak pernah besahabat dengan tubuh ramping berbalut kemeja asimetris dan celana ketat dari kulit itu.

Gadis itu menarik nafas panjang dengan gusar. Hari ini bukan hari yang baik untuknya. Bangun terlambat, tidak diizinkan masuk dalam kelas pertama, dan profesornya membuang tugas akhirnya tepat di depan matanya. Bahkan ketika dia keluar kelas terakhirnya hari itu, dia terpaksa harus menyabarkan telinganya untuk menikmati suara lengkingan histeris dari mahasiswi ketika The Most Wanted Man lewat di lorong yang sama dengannya. Kenapa mereka harus repot-repot berteriak untuk seseorang yang bahkan tak sudi mengenal mereka.

Iiissh… Apalagi yang bisa lebih buruk dari ini?

“Lee Chae Rin!”

Gadis itu berbalik, mencari sumber suara yang menyebut namanya. Seakan bernyawa, suraian rambut lurusnya meliuk mengikuti gerakannya. Seseorang berlari mendekatinya. Nafasnya tersengal ketika orang tersebut sudah ada di hadapannya. “Lee Chae Rin.”

Combo! Baru saja dia mengumpat kekesalannya pada angin, dan orang yang dikutuknya sudah berdiri di hadapannya. The Most Wanted Man.

“Huh?”

Lelaki itu hanya menggunakan kaus dan jeans rebel di balik coat-nya. Rambut hitamnya di-gel berantakan. Lee Chae Rin dapat mengatakan dengan pasti, lelaki itu jauh lebih fashionable dibanding apa yang dilihat. Siapa mengira bahwa coat coklatnya adalah keluaran terbaru Balmain.

“Joenneun Kwon Ji Yong imnida,” ucap lelaki itu seraya menawarkan tangannya.

Hellooo~! Tidak ada seorang pun yang tidak tahu namamu, Kwon Ji Yong-ssi! Bahkan aku pun mau taka mau mengenalmu gara-gara fangirl yang mengikutimu laiknya kumbang! Cih!

Chae Rin menegakkan kepalanya lebih tinggi, menatap Ji Yong dengan remeh. Tangannya melipat di dada dan berkata dengan nada malas, “Aku tahu. Apa maumu hingga mencariku, Kwon Ji Yong-ssi?”

Ji Yong mengamati Chae Rin dari ujung ke ujung, sebelum kemudian dia menampilkan ekspresi puas dalam seringai khasnya, “Kamu orang yang aku cari.”

“Huh? Untuk apa?”

“Game.”

.

Oh great. It is the worst day.

To Be Continued ^^
Part 2 ada di sini ^^ - Part 2


Sumber : Fanfic-ALL-Korean-STAR

Untuk Lihat FanFiction Lainnya Bisa Ke Sini ^^ :  Kumpulan FanFiction [UPDATE] 
#A3

[FF] [All] Worst Mistake Ever

Worst Mistake Ever



Cast: -Park Jungsoo / Leeteuk ‘SJ’
         -Kim Taeyeon / Taeyeon ‘SNSD’
         -Kang Sora
         -Lee Donghae / Donghae ‘SJ’
         -Lee Hyukjae / Eunhyuk ‘SJ’
         -Kim Junsu / Junsu ‘TVXQ’
         -Jessica Jung / Jessica ‘SNSD’, 
         -Lee Jinki / Onew ‘SHINee’

Genre: Romance


Leeteuk’s POV-
-Koridor sekolah, 09.25 am-
“OPPAAAAAAAA!!!!!!”
Aish, suara yeoja itu, lagi. Kenapa sih setiap hari aku harus selalu mendengar suara yeoja itu? Kenapa setiap hari aku harus selalu bertemu dengan yeoja itu? Kenapaㅡ
“OPPA!” Yeoja itu akhirnya sudah ada di hadapankuㅡdiikuti dengan cekikikan geli dari beberapa yeoja dan namja di sekitarku dan dia. Yah, jelas saja. Ada juga seorang yeoja naif kelas 1 yang berani mendatangi area namja-yeoja kelas 3. Pakai berteriak-teriak segala, lagi. Jelas saja mengundang seluruh tawa dari semua murid. Uh, sial!
“Apa?” Balasku cepat. Dan garang.
Yeoja itu tersenyum lebar, kemudian menyodorkan sebuah kotak makan berwarna… pink dengan tutup yang transparan, menampakkan isi kotak makan itu. Beberapa gulung sushi dan salad yang terlihat segar.
“Apa ini?”
Yeoja itu tersenyum lagi. “Aku buat sushi dan salad ini semalaman untuk Oppa! Aku tahu Oppa sangat suka sushi kan? Supaya sayurnya ngga ketinggalan, aku buatkan salad juga untuk dimakan setelah makan sushi,” yeoja itu tiba-tiba saja menarik lenganku kemudian mengajakku duduk di sebuah bangku di depan sebuah kelas. Tangan mungilnya sibuk membuka tutup kotak makan itu kemudian mengotak-atik isinya.
Aku menghela nafas. “Oke.. Oke.. Aku terima ini.” Aku merebut kotak makan itu dengan kasar dari pangkuannya. “Sekarang kau bisa pergi dari sini kan, Kim Taeyeon-ah, huh?”
Yeoja itu malah bengong. Lalu, sedetik kemudian, “Uaaa, baru kali ini Oppa memanggilku Taeyeon-ah!” Jeritnya lebay. “Ne, ne. Saranghae, Park Jungsoo-ah! Hihihihi~”
Aku melotot garang mendapatinya menjerit-jerit lebay seperti itu. “Ya sudah, sana pergii!” Usirku.
Taeyeon mengangguk, kemudian (masih dengan wajah berseri-serinya) “Daaah, Jungsoo Oppa! Nan jeongmal sarang-sarang-sarang-saranghaeyooo!” Ia menjerit dari kejauhan sambil melambaikan tangannya kepadaku.
Buru-buru kututupi wajahku dengan tangan kanankuㅡpura-pura tidak kenal.
***
Namaku Park Jungsoo. Kalian bisa panggil aku Leeteukㅡyang artinya spesial. Saat ini statusku adalah ketua presiden sekolah di sebuah sekolah menengah atas swasta yang cukup terkenal di Seoul. Yeoja tadi? Eng…. Uh, apa harus kuceritakan pada kalian?
Yeoja itu Kim Taeyeon. Sebetulnya sejauh ini aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, tapi.. Yeah, kuakui. Dia teman masa kecilku. Saat aku dan Taengㅡnama panggilan yeoja ituㅡmasih duduk di sekolah dasar, kami bertetangga. Entah karena apa, sewaktu masih di sekolah dasar aku sangat menggilai yeoja yang umurnya 2 tahun di bawahku itu. Aku selalu memanggilnya ‘yeobo’, ‘taeyeon-ah’, yang jelas dengan semua ke-oon-an masa kecilku aku menunjukkan cintaku padanya. Aku selalu mengejar-ngejar yeoja itu, dan.. Ah, sudahlah. Masa kecil yang suram.
Waktu demi waktu berlalu, aku dan Taeyeon pun akhirnya lulus dari sekolah dasar.
Selama tiga tahun di sekolah menengah pertama, aku dan Taeyeon sekolah di tempat yang berbeda. Rumahnya juga pindah, tak lagi di sebelah rumahku. Sebetulnya saat itu aku sangat sedih berpisah dengannya, namun lama kelamaan aku mulai terbiasa.
Setelah masuk sekolah menengah atas, dan.. Jengjeng. Taeyeon ternyata kembali menjadi adik kelasku!
Saat melihatnya setelah sekian lama tak berjumpa dengannya, aku tak lagi merasakan ‘radar-radar cinta’ darinya. Malahan sekarang.. Justru berbalik ia yang mengejar-ngejar aku! Bayangkan, setiap hari ia selalu mampir ke kelasku tanpa malu, menjerit-jeritkan namaku setiap kali ia berpapasan denganku di sekolah, dan sekarang aktivitasnya bertambah; membuatkanku bekal makanan setiap pagiㅡyang kuakui, lumayan lezat.
Ya Tuhan… Apa dosaku.
***
-Rumah Jungsoo, 14.14 pm-
“Ah, malu-maluin sekali. Sejak kapan Park Jungsoo ketua presiden sekolah yang paling eksis di kalangan yeoja ini bergaul dengan seorang yeoja aneh dari kelas 1?!” Jeritku frustasi sembari mendudukkan tubuhku di sofa berwarna putih yang ada di ruang tengah rumahku.
Eunhyuk ㅡyang sengaja kupanggil ke rumah siang ituㅡtertawa ngakak mendengar pernyataanku. “Hahaha! Salahmu sendiri, sih. Hahaha, sudahlah. Namanya juga kalian kan teman masa kecil.”
Aku menatapnya jengkel. “Teman masa kecil apanya?! Aku hanya tetangganya sewaktu kami masih sama-sama di sekolah dasar, dan bodohnya lagi saat itu aku naksir dengannya. Dan sekarang..? Eeeeeww, siapa yang mau dengan yeoja pendek dan aneh seperti dia?! Huh~”
Donghae ㅡyang juga ikut ke rumahkuㅡtertawa geli kemudian berbisik jahil. “Hyung, hati-hati kena hukum karma lho. Bisa jadi nanti malah kau yang terkena pesona Taeyeon dan kembali mengejar-ngejarnya…”
Aku mendelik. “Sampai arwah ayahku kembali lagi ke dunia aku juga tidak akan sudi mengejar-ngejarnya!”
Mereka tertawa ngakak.
“Lagipula, kalau begini caranya, bagaimana aku bisa mendekati Sora, coba?” Keluhku kesal.
Sora. Kang Sora. Seorang yeoja yang seangkatan dengankuㅡnamun usianya satu tahun di atasku. Sejak masuk sekolah ini, aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Kesannya… Ia sangat dewasa, cantik, feminin, keibuan.. Aaah, cocok sekali dengan type yeoja idealku. Bukan yeoja kekanak-kanakan yang aneh dan pendek seperti Taeyeon.
Eunhyuk memandangku. “Sora? Ha? Apa yang kau bilang? Sora? HAHAHAHA!” Mendadak dua namja ini kembali menertawaiku.
Aku mendadak gusar. “Apa maksudmu menertawaiku, hah? Maksud kalian aku tidak cocok dengan Sora, begitu?”
Donghae menahan tawanya, kemudian, “Bukan begitu, hyung.. Tapi.. Hahahaha.. Ha.. Ha.. HAHAHAHA!”
Buk! Buk! Dua bantal sofa yang cukup besar melayang tepat ke jidat duo curut itu.
***
-Sekolah, 11.35 am-
Aku tengah berjalan-jalan sendirian di ramainya sekolah saat istirahat makan siang. Hari ini dan kemarin aku sama sekali belum melihat Sora. Ngomong ngomong dia ke mana yah?
“Oppaaaaa!!!!” Jeritan cempreng yang melengking kembali menusuk gendang telingaku. Kampreeet, yang dicariin Sora yang nongol malah yeoja cempreng ini.
“APA?” Jawabku gak nyante sambil membalikkan badanku ke arah belakang, lalu mendapati Taeyeon berlari-lari kecil ke arahku sambil membawa sebuah kotak makan yang kali ini berwarna putih.
Taeyeon terengah-engah kecil sambil mengusap keringatnya. “Aku cariin di kelas ga ada, eh ternyata lagi di kantin.” Keluhnya. Tapi sedetik kemudian ia kembali tersenyum ceria. “Ah, tapi untunglah Oppa sudah ketemu! Hihihi. Aku kan jadi bisa memberikan bekal untuk Oppa. Maaf ya Oppa, aku telat ngasih bekalnya. Habisnya tadi pagi aku bangun kesiangan karena semalaman membuatkan nasi goreng kimchi untuk Oppa. Maaf ya, Oppa? Bekalnya dibuat makan siang saja ya? Hehehe.” Cerocosnya.
Aku memandangi kotak makan yang ia serahkan itu. Kenapa anak ini tahu semua daftar makanan favoritku? Nyewa penguntit profesional di mana dia? Belum lagi kotak bekalnya berwarna putihㅡwarna kesukaanku.
Aku memandang wajahnya. Sebetulnya Taeng memang lumayan manis. Wajahnya menyiratkan kelelahan, kedua matanya sayuㅡseperti kurang tidur. Apa dia benar-benar berjuang membuatkanku bekal semalaman sampai tidak tidur? Hhhh. Dasar. Aneh-aneh saja.
Tak sadar, senyumku mengambang. “Gomawo.” Ucapku tulus. Mungkin karena kasihan melihat perjuangannya membuatkanku bekal, akhirnya aku bisa bermanis-manis dengan yeoja ini.
Taeyeon tersenyum senang. “Hehehe, cheonma, Oppa-ku sayang. Saranghae!” Balasnyaㅡcukup lebay.
Aku menepuk lengannya. “Ya sudah. Kau kembali ke kelas sana. Jam makan siang sudah mau habis.” Ucapkuㅡbermaksud mengusirnya secara halus.
Taeyeon mengangguk patuh, kemudian melambai ke arahku. “Oppa, saranghaeeeee~”
Aku hanya bisa nyengir.
Baru saja aku berbalik, tiba-tiba saja pandangan mataku terarah pada seorang yeoja yang baru saja masuk kantin. Ah.. Sora!!! Uwaa, dia cantik sekali >,
“Leeteuk?” Sapanya saat ia berpapasan denganku. Aku menunjukkan senyum terbaikku, kemudian balas menyapanya. “Hai. Sendirian?”
Sora mengangguk sambil tersenyum kecil. Ya Tuhan, dia cantikkkk sekali! “Iya. Haha. Emm, kau sedang apa? Mau makan siang ya? Mau temani aku tidak?”
Hah? Hah? Ini telinga gak salah denger kan? Sora..? Mengajakku menemaninya makan? GYAAAA!!!!!! Namja normal mana yang menolak ajakannya? “Ah.. Boleh saja.” Ucapku menyanggupinya.
Sora tersenyum senang, kemudian ia melirik ke arah tanganku. “Em.. Kau bawa bekal sendiri, ya?” Ujarnyaㅡseakan menahan tawa. Ah, sial! Ini kan bekal dari Taeyeon? Ihhh, malu-maluin aja. Bisa-bisa Sora menganggapku sebagai anak mami yang setiap hari dibekali kotak makan oleh ibunya.
“Ah.. Aniya, aniya.. Ini.. Engg, kebetulan ada yeoja kelas 1 yang memberiku bekal.. Hehehe.. Tapi, engg, aku tidak suka dengan masakannya, jadi aku pergi ke kantin mencari makan siang sekalian mau membuang bekal ini,” rentetku dengan berbagai kata-kata yang kurangkai dan kukarang secepat mungkin. Segera saja kulempar kotak bekal itu di tempat sampah yang ada di sebuah stan makanan dekat tempatku dan Sora berdiri.
“Oh, begitu.” Sora mengangguk-angguk mengerti. “Ya sudah, ayo.”
“Ne.” Jawabku senang sambil berjalan di sebelahnya. Uwaa.. Ini seperti mimpi! Bisa makan berdua dengan gadis pujaanku selama ini… Ah…
***
-Taeyeon’s POV-
-Kelas Taeyeon, 14.56 pm-
Hari ini aku piket. Yuri, Yoona dan Sunny yang satu kelompok untuk piket denganku hari ini sengaja kabur dari tugas piket! Huh, sial.. Tapi berhubung Kim Taeyeon adalah yeoja pandai yang imut dan rajin, aku harus melaksanakan tugas piket ini! Ha-ha-ha.
Setelah sekitar setengah jam membersihkan kelas sendirian, aku menghela nafas lega. “Aaah, akhirnya selesai juga,” aku memandangi seisi kelas dengan tampang puas dan jumawa. Tapi kemudian kembali lemas begitu mendapati tempat sampah yang penuh di pojok kelas. “Kampreeeettttt!!!!! Masa Kim Taeyeon yang cantik, kece, pandai, imut dan rajin ini harus buang sampah segede gunung kidul gini?!” Jeritku murka. Tapi kemudian dengan tampang melas kuraih tempat sampah itu kemudian membawanya keluar kelas.
“Dih, kenapa semua tempat sampah penuh sih,” gerutuku sebal mendapati semua tempat sampah penuh. “Ah, mungkin tempat sampah yang di kantin gak penuh-penuh banget.”
Segera saja kuhampiri tempat sampah yang berada paling dekat dengan pintu masuk kantin. Baru saja aku membuka tutup tempat sampah itu, mataku menangkap sebuah benda yang sangat familiar olehku.
“I.. Ini kan.. Bekal yang kuberikan untuk Leeteuk Oppa..?”
***
-Leeteuk’s POV-
-Kelas Leeteuk, 07.43 am-
“Hei,” aku menepuk bahu Donghae yang tengah menyalin sesuatu di buku tulisnya. Haha, mungkin sedang nyontek PR orang.
Donghae menatapku garang. “Pagi-pagi udah bikin kaget aja.. Orang lagi sibuk ngerjain PR main tepuk pundak aja.” Ucapnya sewot.
Aku tertawa. “Makanya, ngerjain PR itu di rumah, bukan di sekolah!”
Donghae diam tak membalas. Ia semakin mempercepat gerakan tangannya untuk menyalin.
Aku baru saja mendaratkan pantatku di bangku dan meletakkan tasku di samping meja, saat tiba-tiba…
BRAKKK!!! Taeyeon tiba-tiba saja masuk ke dalam kelas kemudian menggebrak mejaku dengan keras.
“A-apa-apaan kau?!” Aku berdiri menghadapnya yang datang tiba-tiba saja mengagetkanku itu.
Kedua mata yeoja itu bengkak. Wajahnya memerah, kemudian dengan terisak ia membentakku. “KALAU OPPA MEMANG TIDAK SUKA DENGAN MASAKANKU, BILANG SAJA!!! TIDAK USAH REPOT-REPOT MEMBUANGNYA MENTAH-MENTAH SEPERTI ITU!” Jeritnya membuat semua orang yang ada di kelasku menoleh ke arah kami berdua.
“A.. Apa sih..? Apa maksudmu..? Aku.. Aku tidak mengerti..”
Taeyeon menggebrak mejaku lagi. BRAKKK!! “JANGAN PURA-PURA TIDAK MENGERTI!!!” Jeritnya lagi lebih kencang. “Kemarin aku melihat bekal makan siang yang kuberikan pada Oppa ada di tempat sampah!!! Tempat sampah, tem-pat sam-pah!!! Kau kira butuh perjuangan seperti apa membuatkanmu masakan seperti itu, hah?! Aku bahkan sampai lalai mengerjakan PR-ku demi membuatkan Oppa nasi goreng kimchi itu, dan.. Apa?! Kau malah membuang sia-sia hasil perjuanganku itu ke TEMPAT SAMPAH!!!”
Aku terdiam. Seketika aku ingat kalau kemarin siang aku membuang kotak bekal yang diberikan Taeyeon itu karena aku malu dilihat Sora membawa-bawa kotak bekal seperti itu. “Ta.. Taeng.. Aku..”
PLAK!! Dengan telak Taeyeon menampar pipiku dengan keras. Semua orang yang ada di situ menahan nafas, tak percaya melihatku sang ketua presiden sekolah ditampar seorang yeoja kelas 1.
“AKU BENCI KAU!” Jeritnya, kemudian dengan berurai air mata ia langsung berlari kencang meninggalkanku.
Ya Tuhan. Apa yang sudah kuperbuat?
***
-Kelas Taeyeon, 09.27 am-
“Kyaaa! Leeteuk Oppa!!”
“Aaaah.. Leeteuk Oppa!!!”
“Leeteuk Oppa, saranghae!!!”
Aku hanya bisa meringis mendapati sejumlah yeoja yang histeris melihat kedatanganku di kelas merekaㅡyang merupakan kelas Taeyeon. Ya, Taeyeon. Aku harus minta maaf dengannya. Aku sadar kalau aku sangat bersalah dengannya.
“Eng.. Taeyeon ada di dalam..?” Tanyaku sambil memamerkan senyumku.
“Ha? Leeteuk Oppa mau ngapain cari Taeyeon? Jangan jangan, Leeteuk Oppa pacaran yah sama Taeyeon?” Celetuk salah satu dari mereka, membuat yang lain menghela nafas kecewa.
Aku terkekeh. “Hahaha, aniya. Aku hanya mau bertemu dengan Taeyeon, dia ada di dalam kan? Bisa tolong panggilkan?”
“Eng.. Sebetulnya baru saja tadi Taeyeon minta izin ke guru konseling untuk pulang lebih cepat, katanya ia sedang tidak enak badan. Mana tadi dia kelihatan habis menangis gitu. Matanya sembap. Habis minta surat ijin, dia langsung pulang.”
Aku tercengang. “Jadi.. Sekarang dia sudah pulang?”
Mereka semua mengangguk.
“Ah.. Ya sudah deh. Gomawo. Ah, ngomong-ngomong, kalian tahu di mana rumah Taeyeon?”
Seorang yeoja berambut panjang tertawa. “Loh, bukannya selama ini Oppa dan Taeyeon bertetangga? Selama ini Taeyeon selalu membangga-banggakan kalau ia bertetangga dengan Leeteuk Oppa.”
“Mwo? Bertetangga?” Ucapku bingung. “Memangnya rumahnya di mana?”
“Di kompleks sebelah sekolah, blok B nomor 27. Rumah Oppa nomor 25 kan?”
Ah.. Jadi Taeyeon kembali tinggal di rumah lamanya, batinku. “Oh, ya sudah, deh. Gomawo~”
***
-Rumah Taeyeon, 13.56 pm-
Ting tong..
Aku memencet bel rumah Taeyeon yang sama sekali tak berubah dengan rumahnya 12 tahun yang lalu. Lampu tamannya masih bermodel jaman dulu, saat masih kecil dulu aku suka sekali bermain kejar-kejaran dengan Taeyeon mengitari lampu taman itu. Dan.. Jendela rumah Taeyeon ini.. Dulu aku pernah dimarahi oleh ayah dan ibuku karena aku memecahkan jendela rumah Taeyeon saat sedang bermain softball dengannya. Aku tersenyum membayangkan memori masa kecil yang cukup menyenangkan itu.
Krek.. Pintu terbuka. “Jungsoo?” Ucap si pembuka pintuㅡyang tak lain tak bukan adalah ibu Taeyeon.
“Apa kabar, Bibi?” Aku memeluk perempuan setengah baya itu. “Lama tidak bertemu.”
Ibu Taeyeon tersenyum sambil membalas pelukanku. “Baik. Kau dan keluargamu masih tinggal di sebelah? Kukira sudah tidak lagi…”
Aku tersenyum. “Haha, tentu saja masih. Semenjak ayah meninggal, ibu bilang keluargaku harus tetap mengurus rumah peninggalan ayah satu-satunya itu. Hihihi.”
Ibu Taeyeon tersenyum. “Ah.. Ada apa kau kesini, Nak Jungsoo..?” Tanyanya. “Mau bertemu Taeyeon yah?”
Aku tersenyum kemudian mengangguk kecil. “Eng.. Aku mau bicara dengan Taeng, Bi. Boleh aku masuk?”
“Tentu.. Tentu saja boleh!” Ibu Taeyeon mengangguk semangat. “Tapi.. Bibi heran dengan Taeyeon. Tadi ia pulang lebih cepat dari biasanya dan langsung masuk kamar tanpa berkata apa-apa. Saat Bibi telpon ke sekolahnya, ternyata Taeyeon minta ijin pulang dengan alasan tak enak badan. Bibi takut Taeyeon kenapa-napa. Tapi.. Untunglah kau datang, Nak Jungsoo! Taeyeon pasti akan langsung membaik kalau bertemu denganmu.”
Aku tersenyum getir.
***
-Kamar Taeyeon, 13.58 pm-
“Taeyeon..?” Aku mengetuk-ngetuk pintu kamarnya yang tertutup itu.
Kucoba membuka pintu kamar itu dengan menggerakan gagang pintunya, kemudian.. Krek.. Terbuka! Aku mendapati yeoja itu tengah meringkuk di pojok kamarnya membelakangiku.
“Taeyeon..?” Tegurku. Yeoja itu diam saja. Tak bergerak sedikitpun. Tapi tubuhnya bergetar, sesekali aku dapat menangkap suaranya sedang terisak pelan.
“Taeyeon..” Kututup pintu kamarnya, lalu kuberanikan diri menghampiri yeoja itu.
“Taeng..?” Aku menepuk pelan lengannya.
Yeoja itu terisak semakin kencang saat aku menepuk lengannya. “Mau apa lagi Oppa ke sini..?” Ucapnya dengan suara serak. “Masih belum puas Oppa menyakiti aku, hah?” Jeritnya lirih.
“Taeng.. Aku..” Aku semakin diliputi perasaan bersalah melihat kondisinya seperti ini.
“Pergi kau!” Jeritnyaㅡmengusirku mentah-mentah. “Aku tidak mau melihat muka Oppa lagi!! Kau jahat, Oppa! Kau jahat.. Huaaaa..”
“Taeyeon..” Aku menarik tubuhnya mendekat ke tubuhku kemudian memeluknya erat-erat. Ia tidak menolak, ia malah menangis semakin kencang membenamkan kepalanya di dadaku.
“Oppa jahat.. Hikshikshiks.. Huaaa.. Jahatttt… Aku benci… Hiks hiks hiks..” Aku membiarkan kedua tangan mungilnya memukul-mukul lenganku. Aku semakin erat memeluknya, kemudian, “Taeng.. Aku.. Aku sadar. Aku.. Aku salah. Maafkan aku.”
“Akhhuuu benchhhiii Opphhhaaaa.. Opphha jhahathhh.. Akhhuuu benchhiiiiii..” Suara Taeyeon semakin serak dan tidak karuan, nafasnya terengah-engah karena tangisannya semakin deras.
“Taeng.. Uljima..” Kuusap air matanya dengan jari-jariku. “Mianhae. Jeongmal mianhae. Aku tahu aku sangat bersalah padamu, aku.. Aku minta maaf, Kim Taeyeon-ah. Aku..”
Taeyeon terisak. Ia kembali memukuli lenganku dengan lemah, lalu menangis lagi.
“Aku.. Aku mau melakukan apa saja asal kau mau memaafkanku. Aku janji. Aku mau melakukan apa saja. Asal kau mau memaafkanku. Eo?”
Tangis Taeyeon mulai sedikit mereda. Dengan mata sembap, ia memandangku lalu mengusap air matanya. “Oppa.. Mau.. Melakukan apa saja..?”
Aku tersenyum hangat sambil mengangguk. “Apa saja. Kau mau menyuruhku salto di tengah jalan, menggoda dan mencium satpam sekolah, atau lompat kodok mengitari sekolah pun akan aku lakukan asal kau mau memaafkanku.”
Taeyeon mengusap-usap kedua matanya, kemudian senyum manisnya itu kembali menghiasi wajahnya. “Kalau begitu, aku mau Oppa jadi pacarku.”
“MWO?” Tampangku langsung aneh. “Aaah.. Aniya, aniya!! Selain itu dehhh..” Tolakku sambil manyun. Kalau sampai aku berpacaran dengan anak kecil ini, bagaimana dengan Sora? Huh.
Taeyeon memajukan bibirnya. “Ih.. Gak mau! Aku maunya Oppa jadi pacarku. Kalau gak, gak aku maafin nih.” Ancamnya.
Aku menggaruk-garuk kepalaku. “Aaah.. Yang lain aja dong. Jangan yang ituuu. Nanti penggemar Oppa bakal sedih kalau Oppa punya pacar.. Nanti kamu malah dibenci sama penggemar-penggemar Oppa, diteror, dirampok, ditampar, dibunuh..” Ucapku lebay menakut-nakutinya.
Taeyeon bergidik dengan polosnya. “Ih, gitu ya? Hmm, ya sudah deh. Kalau gitu aku mau besok Oppa bawain aku bekal makan, sehariiiii aja,” ucap Taeyeon manja.
Aku terdiam sejenak, kemudian mengangguk setuju. “Oke. Aku penuhi keinginanmu.”
Taeyeon tersenyum senang, kemudian nyosor memelukku. “Horeee.. Oppa baik deh.”
Aku nyengir. “Oppa dimaafin kan?”
Taeyeon mengangguk kecil sambil terus memejamkan matanya memelukku.
***
-Kantin, 11.45 am-
“Nih!” Aku meletakkan sebuah kotak bekal makan di hadapan Taeyeon yang tengah memainkan ponselnya sambil duduk-duduk di kursi kantin. Taeyeon tersenyum gembira memandangi kotak bekal yang kuberikan itu.
“Uaaa.. Ada roti panggang, telur dan sosis. Hmm, masakan Eropa!”
“Itu masakan ala Inggris, bodoh!” Serobotku jengkel.
Taeyeon tertawa. “Hahaha, sengaja untuk mengetesmu, Oppa.” Ledeknya sambil menjulurkan lidahnya.
“Ya sudah, makan sana. Aku pergi dulu,” ucapku.
“Eeeh, tunggu!” Taeyeon menahan tanganku, membuatku terduduk di sebelahnya. “Apa lagi?” Tanyaku malas.
“Suapin,” pintanya manja sambil memajukan bibirnya.
Aku bergidik. “Memangnya kau tidak punya tangan apa sampe minta disuapin segala?” Semprotku murka.
Taeyeon semakin memaju-majukan bibirnya. “Iiiih, ga peduli! Pokoknya aku mau disuapin Oppaaa..” Taeyeon menarik-narik tanganku meraih garpu dan pisau yang ada di dalam kotak bekal itu.
“Hhh.. Kau ini memang benar-benar merepotkan,” keluhku kemudian menarik kotak bekal itu dan segera mengiris roti panggang itu lalu menusuknya dengan garpu, kemudian menjejalkannya ke mulut Taeyeon.
“Uhuk!” Taeyeon tersedak, kemudian cepat-cepat ia meraih dan meneguk botol minumnya. “Iiihh.. Oppaaa! Kalau nyuapin yang bener, dong! Emangnya ada gitu orang suap-suapan langsung dijejelin gitu? Ihhhh!”
Aku meliriknya malas.
“Leeteuk?”
Aku yang tengah menyuapi Taeyeon langsung menoleh ke asal suara itu. Sora..?! “So.. Sora?!” Aku segera meletakkan pisau dan garpu yang tengah kupegang itu. “Se.. Sedang apa kau di sini..?” Ucapku gugup. Aduh, bagaimana ini? Bisa-bisa Sora menyangka aku pacaran dengan anak kecil ini karena ia menangkapbasah diriku sedang suap-suapan dengan Taeyeon. Huaaaaa..
Sora tersenyum kecil. “Eng.. Sebetulnya aku mau memintamu menemaniku ke perpustakaan, tapi.. Kau sedang makan siang ya? Bersama.. Pacarmu?” Sora tersenyum kecil menatap Taeyeon.
“A.. Aniyaaaa! Dia bukan pacarku, dia cuma adik kelasku, kok. Hehehe~” aku menepuk punggung Taeyeon dengan keras. “ADAWWW!!” Taeyeon menjerit kesakitan. “Ih, Oppa, sakit tau!” Ucap Taeyeon, kemudian ia menatap Sora dengan sinis. “Kau siapa?” Tanyanya dingin.
“Taeng!” Tegurku. “Dia satu angkatan denganku, dan itu artinya dia seniormu, Taeng! Kau sama sekali tidak sopan berbicara seperti itu.”
Taeyeon terus memandangi Sora dengan tatapan tidak suka. “Ngapain kau ganggu acara makanku dengan Leeteuk Oppa? Pergi sana! Huh.”
“TAENG!” Habis sudah kesabaranku, aku berdiri dan hampir saja menamparnya tapi suara Sora menahanku, “Ah, iya. Maaf aku sudah mengganggu kalian. Eng.. Lebih baik aku permisi dulu.” Sora langsung berbalik pergi meninggalkanku.
“So.. Sora..? SORA!” Aku berteriak memanggilnya.
“Huh.. Bagus deh. Daaah, Nenek Sihir.. Hahahaha.” Taeyeon tertawa puas.
“TAENG! Kau benar-benar keterlaluan!” Bentakku penuh emosi. “Di mana sopan santunmu?!”
Taeyeon menatapku dengan pandangan aneh. “Memangnya kenapa? Salah dia sendiri, kan, ngapain ganggu acara makanku dengan Oppa. Huh..”
“Ah! Kau ini memang benar-benar menyebalkan!” Aku segera berlari meninggalkannyaㅡmengejar Sora.
***
-Taman sekolah, 12.03 pm-
“Sora.. Maafkan aku. Taeyeon memang seperti itu orangnya, dia sangat sinis dengan setiap yeoja yang dekat denganku. Yah, kau tahu lah.. Ia sangat menyukaiku, jadinya…”
Sora tersenyum. “Gwenchana, Teuk. Tadi aku hanya tidak mau memperpanjang masalah, ya sudah aku pergi saja. Lagipula aku memang salah, ngapain aku ganggu acara makan siang kalian. Hihihi.” Sora mencoba tersenyum.
Aku semakin merasa tidak enak. “Mianhae. Jeongmal mianhae.”
Sora tersenyum lalu mengangguk kecil. “Ini hanya masalah kecemburuan hati, Teuk.. Kau tahu kan, melihat orang yang kita suka sedang berduaan dengan orang lain itu sangat menyakitkan.”
Mataku membulat. “O.. Orang yang kau sukai..?” Tanyaku bloon.
Wajah Sora memerah, kemudian dengan tersipu ia mengangguk. “Jujur Teuk.. Aku menyukaimu. Bahkan aku.. Aku mencintaimu..”
Aku tercengang. Mendadak seakan-akan aku tidak sedang berpijak di tanah, tapi melayang-layang. Sora.. Sora mencintaiku..?!?!?!?!
Oke, stay cool, Teukie!
Aku tersenyum kemudian meraih tangannya dan menggenggamnya. “Kau beruntung sekali. Orang yang kau sukai juga menyukaimu, loh.”
Sora memandangku. “Me.. Menyukaiku..? Kau.. Kau menyukaiku?”
Aku tersenyum kemudian mengangguk.
Sora menatapku tak percaya, kemudian ia tersenyum bahagia. “Ah.. Teuk.. Kau..”
Aku menariknya ke dalam pelukanku, kemudian membelai lembut rambutnya. “Saranghaeyo, Kang Sora.”
Sora membalas pelukanku. “Nado saranghaeyo, Park Jungsoo..”
Aku tersenyum memandangnya. Ah.. Siang yang indah.
***
-Parkiran sekolah, 13.47 pm-
Aku terus menerus tersenyum membayangkan kejadianku tadi dengan Sora. Ah.. Sekarang aku resmi menjadi pacarnya. Aaaah, aku senaaaaang sekali. Aku harus segera pamer nih ke Eunhyuk dan Donghae. Huahuahahaha..
Aku baru saja akan membuka pintu mobilku, saat tiba-tiba.. “GYAAAA!!!” Jeritku kaget mendapati Taeyeon ada di sampingkuㅡsecara tiba-tiba.
Aku mengelus dadaku, menetralkan jantungku yang hampir copot karena dikagetkan oleh kedatangannya yang sangat amat tiba-tiba itu. “Kau mau membuatku mati kekagetan ya karenamu?!”
Taeyeon manyun. “Oppa tadi kemana?! Aku cariin keliling sekolah, tapi ga ketemu-ketemu! Oppa pasti berduaan sama Nenek Sihir itu ya? Huh, aku gak suka sama Nenek Sihir itu! Udah jelek, sok alim, sok kalem, pendek lagi!” Olok Taeyeon tanpa menyadari fakta bahwa sebetulnya ia jauh lebih pendek dari Sora…
Aku menghela nafas. “Taeng, jangan mengolok-olok orang seperti itu, ah. Oppa tidak suka.”
Taeyeon menjulurkan lidahnya, ngotot. “Biar! Lagian siapa suruh punya wajah nyebelin gitu. Ihhhh!”
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sifat keras kepalanya itu.
“Kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kelas 1 sudah pulang daritadi?”
“Aku kan menunggu Oppa.” Jawabnya polos.
Aku menghela nafas. “Untuk apa kau menungguku?”
Taeyeon tersenyum manja kemudian ia memeluk mesra lenganku. “Karena aku sayaaaaaaang sekali sama Oppa~” chu! Ia berjinjit kemudian mengecup pelan pipiku.
“Aish, Taeng,” aku melepaskan pelukannya di lenganku kemudian mengusap pipiku. Taeyeon manyun.
“Ya sudah. Ayo kita pulang.”
***
-Author’s POV-
-Kelas Taeyeon, 08.12 am-
“Taeng, sudah dengar gosip terbaru tidak?” Jessica, teman sebangku Taeyeon menyenggol lengan Taeyeon dengan bersemangat.
“Gosip apa?” Balas Taeyeon malas. Ia tengah asyik mencatat rumus-rumus Fisika yang dituliskan Kim seosaengnim di papan tulis.
“Leeteuk Oppa kesayanganmu itu katanya pacaran loh dengan Kang Sora. Itu tuh, yeoja populer di sekolah kita! Yang kaya raya, cantik dan pintar.”
“MWO?!” Jeritan kaget Taeyeon membuat seisi kelas menoleh ke arah mereka berdua. “Leeteuk Oppa pacaran dengan Kang Sora yang jelek, sok alim, sok kalem dan pendek itu?!”
Jessica mengangguk. “Donghae Oppa yang memberitahuku tadi pagi.” Ucap Jessica menyebut nama pacarnya itu. “Katanya sih baru kemarin pacarannya. Hahaha.. Kau siap-siap patah hati, ya, Taeng..?” Gurau Jessica.
BRAK! Taeyeon menggebuk meja dengan penuh emosi. “Leeteuk Oppa brengseeeeekkkk!!!!”
***
-Leeteuk’s POV-
-Taman sekolah, 09.43 am-
Aku mau bicara dengan Oppa sekarang! SE-KA-RANG! Di taman belakang sekolah seperti biasanya. Se-ka-rang!
Dengan malas-malasan kuseret kakiku menuju taman belakang sekolah. Aish, Taeyeon mau bicara apa sih sampai-sampai mengsmsku yang isinya harus bertemu sekarang juga di taman belakang sekolah. Bukankah tugasku membawakannya bekal makanan sudah berakhir waktunya? Huh.
“Ada apa?” Tanyaku cepat sambil mengambil duduk di sebelah Taeyeon yang tengah mengetuk-ngetukkan jarinya di pegangan kursi taman.
“NAH! Datang juga anak ini.” Sambutnya sambil meremas gelas plastik jus jeruknya yang sudah penyok dari tadi.
“Langsung saja. Ada apa?”
“Oppa pacaran dengan Sora-sora yang jelek, sok alim, sok kalem dan pendek itu?”
“…” Aku diam saja sambil mengotak-atik ponselku.
“Oppa! Jawab aku!”
“Yeah..” Aku menggumam.
“Jawab yang jelas! Oppa pacaran dengan orang itu?!”
“Yah~ begitulah.. Wae?”
Taeyeon memandangku tak percaya. “Kenapa Oppa berpacaran dengannya?!”
Aku tak mengalihkan pandanganku dari layar ponselku. “Karena aku mencintainya dan dia juga mencintaiku. Simpel kan?”
“Lalu aku?!”
“Lalu kau apanya?”
“Lalu bagaimana denganku?!” Jerit Taeyeon. Matanya mulai berkaca-kaca. Ya Tuhan, kenapa dia ini cengeng sekali sih. “Oppa tidak memikirkan perasaanku?! Selama ini aku selalu mencintai Oppa dengan sepenuh hatiku, memperhatikan Oppa hingga aku sama sekali tak memperhatikan diriku sendiri.. Lalu sekarang dengan mudahnya Oppa malah berpacaran dengan Nenek Sihir menyebalkan itu?!”
Aku memandang Taeyeon dengan pandangan tidak suka. “Punya hak apa kau melarangku berpacaran dengan Sora, hah?”
“Aku mencintai Oppa dan aku membenci yeoja itu! Makanya aku melarang Oppa berpacaran dengan yeoja itu!” Jerit Taeyeon. “Harusnya Oppa bisa mengerti perasaanku yang tak mau kehilangan Oppa…” Air mata Taeyeon mulai meleleh.
Aku berdiri. “Harusnya kau juga mengerti bagaimana perasaanku yang sama sekali tidak ada rasa cinta padamu, Kim Taeyeon! Kau terlalu muda bagiku dan aku terlalu dewasa untukmu! Aku butuh yeoja dewasa yang bisa mengerti dan mencintai aku seperti Sora, bukan yeoja kekanak-kanakan yang bisanya hanya mengolok-olok orang sepertimu! Oke, aku akui kalau dulu saat aku masih sangat polos dan bodoh aku tergila-gila padamu, mencintaimu dan ingin sekali menjadi pacarmu, tapi sekarang rasa itu sudah pudar! Aku tidak mencintaimu tapi aku hanya mencintai Sora. Ya, Sora! Bukan kau!”
Tangis Taeyeon pecah. “Tapi.. Tapi aku.. Aku mencintai Oppa!!! Aku ingin Oppa juga mencintaiku.. Hiks.. Bukan yeoja jelek itu.. Aku.. Aku hanya mencintai Oppa…”
Aku mendengus kesal. “Jadi kau memanggilku ke sini hanya untuk membicarakan permasalahan yang sangat amat tak penting ini, huh? Sudahlah. Aku sedang malas berdebat dengan anak kecil sepertimu.” Putusku kemudian segera pergi meninggalkannya.
***
-Kafe, 15.12 pm-
“Teuk?”
“Teuk..?”
“Teuk!”
“Teuk?!”
Aku terbangun dari lamunanku. “Ah.. I.. Iya.. Wae, Sora?”
Sora menghela nafas, kemudian ia menggenggam tanganku. “Kau kenapa?”
Aku tersenyum kecil kemudian menggeleng. “Ah.. Gwenchana. Tak apa.” Jawabku singkat.
“Kau tidak suka ya makan siang bersamaku?”
Aku menggeleng. “Ah.. Aniyaa.. Siapa bilang? Aku hanya merasa sedikit pusing karena akhir-akhir ini aku banyak mengikuti bimbingan belajar,” ucapku memberi alasan.
“Kau terlihat aneh.” Ucap Sora.
Aku diam saja. Bagaimana aku tidak terlihat aneh kalau sampai saat ini kata-kata Taeng masih terngiang-ngiang di telingaku. Sekesal-kesalnya aku pada Taeyeon, baru kali ini aku membentaknya sekeras itu. Sebetulnya aku merasa cukup bersalah membentaknya seperti itu, tapi.. Ah, biar saja. Siapa suruh melarang-larangku seperti itu. Memangnya aku ini siapanya? Kami hanya bertetangga dan hanya sebatas teman, tak lebih.
Aku meraih cangkir kopi ku kemudian menyesapnya perlahan. “Hari ini aku antar pulang, ya?”
Sora terdiam, kemudian menggeleng pelan. “Hari ini aku ada acara jalan-jalan bersama temanku, Teuk.” Ucapnya. “Kau pulang duluan saja.” Lanjutnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk-angguk. “Oh.. Oke. Baiklah.”
***
-Rumah Leeteuk, 16.30 pm-
“Sedang apa kau disini?” Tegurku dingin mendapati Taeyeon sedang meringkuk di depan pagar rumahku. Tubuhnya masih terbalut seragamnya lengkap, tas hitamnya masih digendongnya di punggungnya. Sepatu cokelat dan kaus kaki putihnya tetap melekat di kakinya.
Taeyeon mendongak. Wajahnya terlihat sangat lesu, kemudian ia berdiri dan mendongak menatapku lagi. Kampret, hampir saja tawaku meledak keluar mendapatinya tengah mendongak mati-matian melihatkuㅡmengingat tinggi badanku dan Taeyeon yang berbeda jauh ini.
“Aku mau bicara sama Oppa.” Ucapnya tegas. Lebih tepatnya sok tegas. Hhh, sama sekali tak sesuai dengan wajah kekanakannya itu.
“Mau bicara apa lagi?” Balasku ketus. “Kau mau melarang-larangku berpacaran dengan Sora? Atau kau mau menyebarkan fitnah tentang Sora agar aku memutuskannya? Atau.. Kau mau menjelek-jelekannya di depanku lagi? Apa yang mau kau bicarakan?!” Nada suaraku meninggi.
Taeyeon menghela nafas. “Apa Oppa tak mau memberiku kesempatan untuk bicara?”
Aku melipat kedua tanganku di depan dada kemudian, “Oke. Apa yang mau kau bicarakan? Cepat katakan.”
“Dua hari ini, aku mengusut semua berita dan fakta-fakta dari yeoja jelek yang pendek dan sok alim bernama Sora ituㅡ”
“Sora eonni, Kim Taeyeon! Aku tidak suka mendengar kau menyebut namanya tanpa sopan santun seperti itu!” Selaku.
Taeyeon menghela nafas, kemudian mengangkat kedua bahunya. “Terserah! Yang jelas aku sudah mengusut banyak berita dari murid-murid kelas 2 dan 3 tentang yeoja itu, dan kau tahu apa hasilnya? 3 hari sebelum Oppa diterima olehnya, dia baru saja putus dari Kim Junsu dari kelas 3-5 yang sudah ia pacari selama 4 tahun, Oppa!”
“Lalu kenapa?”
Taeyeon melotot. “Bagaimana, sih?! Harusnya kau kaget, dong! Kan aneh! Masa habis putus setelah berpacaran 4 tahun dengan mantannya dia bisa langsung suka denganmu? Itu artinya dia kan.. Yeoja murahan, euh?”
“Taeyeon!” Sentakku. “Jaga mulutmu! Sora bukan yeoja seperti itu! Kau jangan asal tuduh orang lain seperti itu, ya. Aku tidak suka dengan sikap burukmu itu!”
“Aku tidak asal tuduh! Memang begitu kenyataannya. Tanya saja sama murid murid kelas 3 yang lain, atau sekalian saja tanya sama orangnya sendiri!” Taeyeon ngotot.
“Terserah! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah percaya semua omong kosongmu itu!” Putusku. “Dan.. Satu lagi.” Aku berbalik ke arahnya, kemudian menegakkan telunjukku tepat di depan wajahnya. “Anggap saja kita sedang tidak saling kenal di sekolah! Aku sudah muak dengan semua perbuatanmu selama ini denganku!”
***
-Kamar Leeteuk, 20.45 pm-
“Kau sedang apa sayang? Sudah makan malam, kan? Um.. Besok pagi kujemput, tidak?”
“Sedang mengeringkan kuteks kuku kakiku, Teuk. Kkk~ sudah, dong. Kau sendiri sudah makan, Teuk? Ah.. Tidak usah. Besok pagi aku sudah janji berangkat bersama temanku.”
Aku memindahkan ponselku ke telinga sebelah kiriku. “Oh.. Ah, aku tidak sedang apa-apa. Baru saja mengerjakan tugas Sejarah,” balasku sambil merebahkan tubuhku di atas ranjang. “Eng.. Sora, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
Cukup lama tak ada sahutan dari seberang sana, sampai akhirnya, “Ne? Mau menanyakan apa?”
Aku menghela nafas, kemudian memiringkan tubuhku memeluk bantal putih di sebelahku. “Kau.. Sejak kapan kau putus dengan.. Emm, Junsu..?” Tanyaku hati-hati, takut Sora tersinggung.
Sora terdiam cukup lama di seberang sana sampai aku akhirnya menyahut lagi, “Sora..? Kau masih di sana kan, sayang..? Hei..?”
Sora menghela nafas, kemudian, “Ah. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
Aku menggigit bibirku. “A.. Aniya.. Aku hanya bertanya saja, memangnya tidak boleh..? Emm, ku.. Kudengar.. Kau baru saja putus dengannya beberapa hari sebelum.. Kau jadi pacarku, kan..?”
Sora menghela nafas lagi. Tapi ia terdiam, tak membalas perkataanku.
“Sora..? Ah, maaf. Aku lancang ya membicarakan mantanmu seperti itu? Ah, Sora. Mianhae. Em.. Maaf. Aku hanya ingin tahu saja tadi. Aku.. Em..”
Sora menyela. “Gwenchana, Teuk. Aku hanya tidak suka saja kau membicarakan itu denganku.”
Aku menggigit-gigiti bibirku lagi. “Mi.. Mianhae.”
“Tak apa. Aku tutup telponnya dulu ya? Sampai jumpa besok.”
“Ah.. Iya. Sekali lagi, aku minta maaf, Sora. Nde.. Sampai jumpa. Saranghae.”
Krek.
Jelas sekali aku dapat merasakan Sora menghindar dariku membicarakan Junsu mantan pacarnya itu. Sebetulnya apa yang terjadi..? Kenapa aku merasa Sora langsung menjadi aneh saat aku mengungkit-ungkit Junsu? Lalu, kenapa ia cepat sekali move on dari Junsu yg sudah ia pacari selama 4 tahun, kemudian tiba-tiba menyukaiku seperti ini..?
Ah… Aku bingung.
***
-Author POV’s-
-Kelas Taeyeon, 10.00 am-
“Taeng, kau sudah mengerjakan tugas Matematika mu?” Tanya Jinki yang hari ini kebetulan sekali duduk sebangku dengan Taeyeon.
Taeyeon memandang Jinki dengan polos. “Tugas yang mana lagi sih?” Jeritnya frustasi. Dipeganginya keningnya yang terasa sangat pening itu. “Tadi malam aku menangis heboh sampai-sampai tidak menyentuh buku pelajaran sama sekali..”
“Mwo? Memangnya kau habis kenapa sampai menangis?” Tanya Jinki penasaran.
Taeyeon diam saja. Ia menutup kedua matanya yang terasa lelah itu, lalu merebahkan kepalanya di meja. Tubuhnya capek. Butuh istirahat.
“Mau kemana?” Tanya Jinki lagi saat tiba-tiba saja Taeyeon bangkit berdiri dari mejanya.
“Unit kesehatan. Mau minta obat pusing,” jawabnya singkat kemudian segera berjalan keluar kelas.
***
“Ah..” Taeyeon meregangkan kedua tangannya sembari menyusuri koridor sekolah yang terasa sangat panjang itu. Dua butir tablet obat pusing dibungkus plastik sudah ada di saku kemejanya, dan satu di antara mereka sudah Taeyeon minum. Kepalanya sudah tidak begitu berat lagi, hanya saja tubuhnya masih terasa remuk dan pegal-pegal.
“…Jadi.. Yah, selama ini aku hanya menjadikannya pelarianku saja.”
Langkah Taeyeon terhenti mendengar suara yeoja yang sangat familiar di telinganya saat ia melewati sebuah kelas. Itu kan suara Sora? Buru-buru Taeyeon mendekatkan tubuhnya ke dinding luar kelas tersebut.
Terdengar suara tawa dari beberapa yeoja. Kemudian salah satu dari mereka menyahut. “Hahaha. Hebat sekali kau bisa mempermainkan ketua presiden sekolah itu.”
“Hm, tentu saja. Aku kan sudah tahu dari dulu dia sangat menggilaiku dan ingin sekali menjadi pacarku.”
“Tapi, Sora. Apakah kau tak takut kalau suatu hari nanti semua sandiwaramu ini ketahuan?”
“Untuk apa takut? Kan memang sejak awal aku tak pernah mencintainya. Kalau ketahuan, ya sudah. Biarkan saja. Toh Junsu juga sudah mulai cemburu karena aku sudah punya ‘pacar’ baru, hahahaha!” Sora tertawa kejam sambil menekankan kata ‘pacar’ di kalimatnya, diikuti tawa nyinyir dari teman-temannya.
“Lalu? Junsu mengajakmu menjadi pacarnya lagi?”
“Yea. Tepat. Sesuai rencana, Junsu cemburu berat dan akhirnya tadi malam ia memintaku menjadi pacarnya lagi. Ahahaha. Sepertinya aku harus cepat-cepat memutuskan namja bodoh itu.”
“Tapi, Sora.. Kau tidak merasa bersalah dengan Leeteuk..?” Celetuk seorang temannya. “Dia kan benar-benar cinta padamu. Masa kau mau langsung meninggalkannya dengan alasan Junsu memintamu menjadi pacarnya lagi?”
“Ah, itu sih gampang.” Tanggap Sora enteng. “Aku bilang saja kalau aku tak suka melihatnya terlalu dekat dengan yeoja kelas 1 yang merupakan teman masa kecilnya itu, lalu aku tinggal minta putus, deh. Gampang kan? Siapa nama yeoja manja itu? Emmm, Kim Taeyeon? Ahahaha!”
Telinga Taeyeon memanas. Bukan karena ejekan Sora tentang dirinya, namun karna ejekan Sora tentang Leeteuk yang ia sayangi itu. Seketika tubuh lemasnya itu menjadi menegang, dengan penuh emosi ia mendobrak pintu kelas itu. “CUKUP, KANG SORA!” Sentaknya. “Sejak awal aku sudah sangat membenci kehadiranmu! Dan ternyata selama ini dugaanku benar.. Kau hanya memanfaatkan Leeteuk Oppa untuk mengembalikan mantan pacarmu! Kau tahu, kelakukanmu itu sangat busuk!”
Sora dan teman-temannya terlihat kaget, kemudian dengan santai Sora berdiri di hadapan Taeyeon. Dengan tatapan dan senyum mengejek, ia berkata, “Oh, hai, Kim Taeyeon. Lama tak berjumpa. Hm.. Kurasa kau sudah mendengar semua pembicaraan kami, ya? AHAHAHA! Benar, Kim Taeyeon. Leeteuk Oppa kesayanganmu itu memang hanya aku perbuat sebagai pelarianku saja, sebagai alat agar mantan pacarku kembali padaku. Itu saja. Jadi.. Kau tak perlu khawatir, sayang. Setelah aku puas mendapatkan apa yang aku mau dengan memanfaatkan dirinya, kau boleh mengambil bekasku itu.”
PLAK!!! Dengan telak Taeyeon menampar pipi seniornya itu. “Kau memang benar-benar yeoja yang sangat jahat!!! Lihat saja kau, aku akan mengadukan semuanya pada Leeteuk Oppa!!!” Ancam Taeyeon.
Sora malah tertawa santai. “Apa Leeteuk mau mendengar dan mempercayai omongan dari anak kecil sepertimu..? Hei, Kim Taeyeon, namja bodoh itu lebih percaya padaku daripada padamu! Ahahahaha..”
Taeyeon benar-benar sudah dirasuki amarah yang berapi-api. “Kau.. Kau.. Kau benar-benar..” Tangan Taeyeon bergetar, ia ingin sekali menampar Sora lagi namun entah kenapa ia tidak bisa.
Sora tersenyum sinis. “Apa? Kau mau menamparku lagi? Hah? Tampar saja! Itu malah bisa menjadi bukti nyata yang membuat Leeteuk akan semakin membencimu karena kau berani menyakiti PACARnya ini! Ahahaha~”
Taeyeon memandang Sora dengan penuh kebencian. Tanpa berkata-kata ia langsung pergi dari kelas itu dengan penuh emosi.
***
-Rumah Leeteuk, 14.25 pm-
Leeteuk turun dari mobilnya saat ia melihat sosok seorang yeoja meringkuk di depan pagar rumahnya. Taeyeon..? Batin Leeteuk sambil menyipitkan matanya. Ia tampak mengenali yeoja itu, dan.. Itu Taeyeon?
“Sedang apa kau di sini?” Tanya Leeteuk sinis.
Taeyeon menengadah, menyadari kedatangan Leeteuk. Wajah yeoja itu kembali beruraian air mata. Leeteuk menghela nafas, “Oke. Apa yang sudah aku perbuat sampai-sampai kau menangis di depan rumahku seperti ini, huh?”
Brukk.. Taeyeon ambruk memeluk Leeteuk. Leeteuk diam tak membalas pelukan yeoja itu.
“Hiks.. Oppa…” Taeyeon terisak. Dengan suara serak dan mata berair Taeyeon menjelaskan semua yang sudah ia alami.
Seusai Taeyeon bercerita, ia mendongak menatap Leeteuk, menunggu responsnya. Tapi Leeteuk hanya diam, sama sekali tak ada respon apapun darinya.
“Oppa..” Taeyeon meletakkan tangannya di bahu Leeteuk kemudian meremas kemeja seragam sekolah Leeteuk. “Kenapa kau diam saja? Kau.. Kau tak percaya dengan ceritaku..?”
Leeteuk diam tak bergeming. Kemudian ia menatap Taeyeon dalam-dalam. Tatapannya.. Sulit dijelaskan. Tatapan kosong seakan tengah dirasuki sesuatu. “Taeng.. Berapa kali aku katakan padamu kalau Sora bukan yeoja seperti itu.”
Taeyeon melemas. Sekali lagiㅡLeeteuk tak percaya padanya. Ia terduduk, kemudian air matanya kembali mengalir. “Apa yang aku harus aku lakukan untuk membuatmu percaya padaku, Oppa..” Ucapnya lemas. “Aku sama sekali tidak bohong.. Sora.. Sora benar-benar bilang seperti itu padaku… Hu.. Hu.. Hiksss… Percayalah…”
Leeteuk menghela nafas, kemudian memandang Taeyeon lagi. Kali ini ia benar-benar merasa sangat kasihan melihat kondisi Taeyeon yang seperti itu. Leeteuk berjongkok, kemudian memegangi kedua pundak Taeyeon. “Taeng.. Kumohon. Jangan katakan hal-hal yang menjelek-jelekkan yeoja yang sangat kucintai itu. Aku.. Aku sangat mencintai Sora dan aku tak bisa berpaling darinya. Aku tahu, Taeng. Aku tahu kau begitu membencinya karena kau merasa Sora sudah merebutku darimu. Tapi.. Jujur, Taeng. Aku tidak suka kau mengarang-ngarang cerita seperti ini, mengatakan ia hanya memanfaatkanku, lah, apa lah..”
“TAPI AKU TIDAK MENGARANG CERITA, OPPA!” Jerit Taeyeon. “Aku.. Aku benar-benar mendengarnya dengan telingaku sendiri!!! Dia berkata seperti itu di depan mataku sendiri!!!”
Leeteuk terdiam. Tanpa berkata-kata ia berdiri, kemudian segera membuka pintu rumahnya kemudian menutupnya. Meninggalkan Taeyeon menangis sendirian di luar rumahnya.
***
-Kamar Leeteuk, 17.58 pm-
Leeteuk merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang bernuansa putih itu. Pikirannya sekarang tersita oleh keanehan Taeyeon.
Leeteuk menghela nafas. Apa benar semua yang dikatakan Taeyeon? Leeteuk tahu, Taeyeon bukan yeoja yang suka berbohong. Taeyeon terlalu polos untuk digambarkan sebagai yeoja pembohong. Tapi Leeteuk tak tega juga menganggap Sora sekejam dan sejahat yang Taeyeon tuturkan. Sora yeoja yang baik di matanya. Sora hanya seorang yeoja yang baru saja putus dari mantannya kemudian menyatakan cinta pada dirinya. Tapi.. Kenapa Taeyeon bilang bahwa Sora hanya menjadikan Leeteuk sebagai pelariannya saja..?
“Argh!” Leeteuk bangkit, kemudian duduk di pinggir tempat tidurnya. Diacak-acaknya rambut cokelatnya itu. Ia benar-benar bingung. Mana yang harus ia percayai..? Taeyeon teman masa kecilnya yang polos atau Sora kekasihnya yang sangat ia cintai itu..?
Kring… Ponsel Leeteuk berdering, memecah lamunan namja itu. Dengan cepat ia menyambar ponselnya kemudian memandangi layar ponselnya yang berkedip-kedip dengan nama Sora tertampang di sana. Dengan segera Leeteuk mengangkatnya. “Yeoboseoyo? Wae, chagi?”
“Teuk..” Suara Sora dari seberang sana terdengar sangat lemah.
Leeteuk terperanjat. “Sora? Waeyo? Apa yang terjadi? Kau kenapa?”
Terdengar isakan lemah dari seberang sana. “Sora?! Ada apa?” Tanya Leeteuk gusar.
Terdengar suara isakan lagi dari seberang. “Taeyeon, Teuk.. Huhuhu..”
Darah Leeteuk seakan mendidih mendengar Sora mengucapkan nama keramat itu. “Kenapa dengan Taeyeon? Lalu kenapa kau menangis, sayang? Hei?!”
Sora terisak. Isakannya menjadi lebih keras. “Tadi siang ia menamparku..”
“MWO?!” Seru Leeteuk. Taeyeon? Menampar Sora? Gadis polos itu menampar kekasihnya sendiri? Ini tidak bisa dibiarkan! “Bagaimana ia bisa menamparmu?!”
Sora terisak lagi. Suaranya semakin melemah. “Aku.. Hiks.. Aku tidak tahu, Teuk.. Aku shock, Teuk. Aku takut.. Dia kelihatannya sangat benci padaku.. Huhuhu.. Teuk.. Aku.. Aku mau putus saja.. Aku tidak kuat.. Dia pasti akan semakin membenci dan akan kembali menyiksaku kalau kita melanjutkan hubungan kita ini…”
BRAKKK!! Leeteuk menggebrak meja belajarnyaㅡemosi. “Sora, jangan bicara yang aneh-aneh! Aku tidak akan membiarkan hubungan kita ini berakhir hanya karena keegoisan anak kecil itu!”
Sora semakin menangis. “Tapi, Teuk.. Aku.. Uhukk..” Yeoja itu terbatuk. Kemudian ia melanjutkan kata-katanya. “Ah.. Sudahlah, Teuk. Aku tidak mau membicarakan ini.. Uhukk.. Aku sedang sakit. Aku sangat shock dengan kejadian tadi siang,” Klik. Telepon terputus.
“Sora? Sora?! SORA?!”
“Sial!” Leeteuk membanting ponselnya ke tempat tidur.
Leeteuk terengah-engah. “Kurang ajar Taeyeon. Berani sekali ia menyakiti Sora. Shit!”
Sayang sekali namja itu mempercayai ucapan dan air mata buaya Sora tanpa mengetahui kondisi asli yang terjadi di antara dua yeoja itu.
***
-Apartemen Sora, 15.01 pm-
Hari ini Sora tidak masuk. Leeteuk sangat khawatir dengan keadaannya. Pasti Sora masih shock dan takut kalau ia bertemu dengan Taeyeon di sekolah. Tapi Taeyeon juga tidak masuk hari ini, huh dia pasti merasa takut apabila bertemu denganku hari ini, batin Leeteuk geram.
Tingtong… Leeteuk menekan bel pintu apartemen Sora. Dipandanginya sekotak cokelat putih berpita di tangan kanannya dan sebuket bunga mawar putih di tangan kirinya. Lumayan, untuk menghibur Sora.
Sekitar 3 menit Leeteuk berdiri di depan pintu apartemen Sora tanpa ada jawaban, Leeteuk mulai merasa aneh. “Kenapa tidak dibuka? Apa dia tak ada di dalam?” Leeteuk memasukkan kotak cokelatnya di tasnya, kemudian menggerakkan gagang pintu itu, dan.. Krek. Terbuka! Leeteuk terkejut, kenapa pintunya tidak terkunci?
“Sora?” Leeteuk memanggil nama pemilik kamar itu. Dari pintu masuk itu Leeteuk dapat melihat sebuah ruanganㅡyang sepertinya kamar Soraㅡdengan pintu sedikit terbuka. Leeteuk tersenyum, kemudian ia menghampiri ruangan itu.
“Sora..” Bruk! Buket bunga di tangan Leeteuk terjatuh begitu kedua matanya mendapati pemandangan yang seakan membuat hatinya langsung tersayat. Sora.. Tengah berciuman panas dengan seorang namja di atas tempat tidur. Sora hanya memakai hotpants dan bagian atas tubuhnya hanya tertutup bra-nya, sedangkan namja yang berciuman dengannya itu shirtless dengan celana panjangnya. Bukankah.. Bukankah namja itu.. Kim Junsu..? Mantan pacar Sora..?
Wajah Leeteuk memanas, kedua manusia brengsek itu sama sekali tak menyadari kedatangannya. Tanpa ba-bi-bu, Leeteuk segera menarik Junsu hingga ciumannya dengan Sora terlepas lalu segera menghajarnya. BUK!!!!
Sora terkejut, kemudian, “Lee.. Leeteuk..?”
Leeteuk menoleh ke arah Sora dengan pandangan tajamnya. “Jadi begini kelakuanmu?! Kau bilang kau mencintaiku sejak lama, kau bilang kau sudah putus dengan namja brengsek ini, bahkan kau memiftnah Taeyeon sudah menamparmu?! Kau benar-benar yeoja MURAHAN!!!!” Umpat Leeteuk penuh emosi.
Sora malah tersenyum mengejek, kemudian dengan pandangan yang tak kalah sinis ia berdiri menghadap Leeteuk. “Lalu kau mau apa? Mau memutuskanku? Putuskan saja! Sejak awal aku memang tidak mencintaimu sama sekali. Aku hanya memanfaatkanmu sebagai alat agar aku bisa mendapatkan pacarku kembali, itu saja. Digunakan sebagai pelarian saja harusnya kau bersyukur, kan?”
PLAK!!! Leeteuk menampar pipi Sora. “Asal kau tahu saja, mulai sekarang aku tidak akan mau melihat wajahmu lagi, yeoja murahan!!! Kembalilah sana ke pacarmu yang sama murahannya denganmu ini!!! Bodoh sekali aku tidak mempercayai ucapan Taeyeon sedari dulu!”
Sora tertawa. “Memang sangat bodoh! Kau memang sangat bodoh, Teuk. Kau bahkan lebih percaya dengan semua kata-kataku daripada dengan yeoja polos dan bodoh bernama Kim Taeyeon itu.”
Leeteuk menatap Sora dengan penuh emosi. “Ka.. Kau.. Kau benar-benar..”
BUGH!!! Tiba-tiba Junsu menghajar punggung Leeteuk dari belakang. “ARGH!!!” Leeteuk menjerit. Rasa nyeri di punggung dan sakit di hatinya bercampur menjadi satu, membuat sensasi menyakitkan yang sangat amat perih. PLAK!!! Belum selesai rasa nyeri di punggungnya, pipinya terasa sangat panas dengan tamparanㅡoh, bahkan hajaran Junsu.
“Kau menganggu acaraku dengan Sora! Pergi kau!” Junsu segera menyeret tubuh tak berdaya Leeteuk itu keluar apartemen Sora kemudian ia menutup pintu dengan keras. Brak!!!
“Ah…” Leeteuk mengerang, dengan tenaganya yang tersisa ia berusaha berdiri. Punggungnya terasa semakin sakit, dengan sedikit terbungkuk ia berusaha berjalan menyusuri koridor apartemen itu. Matanya berkunang-kunang, belum lagi pipinya terasa sangat panas dan perihㅡbahkan sedikit lecet karena tamparan Junsu.
Tapi itu semua tidak sebanding dengan sakit di hatinya saat ia melihat Soraㅡyang saat itu masih berstatus sebagai kekasihnyaㅡberciuman panas dengan posisi dan kondisi tubuh seperti itu dengan namja lain…
***
-Kamar Teuk, 22.32 pm-
“Engh..” Leeteuk mengerjapkan kedua matanya, beradaptasi dengan cahaya lampu kamarnya. Kamar? Leeteuk baru menyadari bahwa ia sedang berbaring di kamarnya. Dan ini..? Leeteuk mengangkat lengan kanannya, ia sudah mengenakan piyama putihnya dan tubuhnya sudah terselimuti oleh selimut tebal berwarna putih kesayangannya. Saat ia menyentuh wajahnya, ia rasakan plester luka merekat di pipinya. Sebetulnya apa yang terjadi..? Kenapa tiba-tiba ia sudah berada di kamarnya dengan keadaan lukanya sudah terobati dan pakaiannya sudah rapi?
“Eh..?” Leeteuk terkejut melihat sosok yeoja yang sangat ia rindukanㅡTaeyeon, yang tengah tertidur dengan posisi terduduk di sebelah tempat tidurnya, dan kepalanya ia rebahkan di tempat tidur Leeteuk. “Ta.. Taeng..?”
Krek.. Pintu kamar Leeteuk terbuka. “Ibu..?” Gumam Leeteuk.
Ibu Leeteuk tersenyum. “Kau sudah bangun, Jungsoo..?” Ibu Leeteuk duduk di pinggir tempat tidur kemudian mengelus kepala anaknya itu.
“Aku.. Aku.. Kenapa.. Euh..?” Leeteuk tak tahu harus berkata apa.
Ibu Leeteuk tersenyum. “Kau pingsan tepat di depan rumah dengan penuh luka, dan saat itu kebetulan Taeyeon menemukanmu. Ia langsung memapahmu masuk ke rumah kemudian langsung mengobati lukamu bahkan menggantikan pakaianmu,” ucapnya sambil tertawa geli.
Leeteuk terdiam. “Taeyeon..? Taeyeon yang.. Mengobatiku..?”
Ibu Leeteuk mengangguk lagi. “Iya. Bahkan dia meminta izin Ibu untuk mengurusmu dan menjagamu semalaman sampai kau pulih. Lihat, dia sampai ketiduran karena terlalu lelah dan terlalu semangat mengurusmu.”
Cesss.. Leeteuk langsung merasa menjadi orang yang sangat jahat di dunia ini. Bodoh sekali ia mengabaikan perhatian dan cinta tulus Taeyeon yang selama ini selalu ada di sisinya.
“Ya sudah, kau istirahat saja dulu, Jungsoo.” Ibu Leeteuk menepuk-nepuk selimut Jungsoo kemudian segera berdiri dan keluar kamar.
“Ne..” Leeteuk mengangguk kecil.
Leeteuk mendudukkan tubuhnya perlahan-lahan. Dipandangnya Taeyeon yang tengah tertidur lelap itu. Ya Tuhan, kenapa Leeteuk baru menyadari sekarang ini kalau Taeyeon itu sangat manis..? Rambut cokelat sebahunya yang selalu ia gerai itu terlihat berkilauan di mata Leeteuk. Kulitnya yang putih susu seperti bayi, bibirnya yang tipis berwarna pink, dan kedua mata hitamnya yang sangat indah.. Betapa manisnya yeoja ini..
Perlahan terlukis senyum di bibir Leeteuk. Ia menyibak selimut putihnya dengan pelan-pelanㅡagar tak membangunkan Taeyeon. Ia berpindah ke sisi ranjang sebelah kiri, perlahan ia menarik Taeyeon ke pelukannya kemudian menggendongnya, lalu merebahkan tubuh mungilnya itu ke atas ranjang Leeteuk.
“Eng…” Tiba-tiba Taeyeon membuka kedua matanya perlahan. Leeteuk tersenyum, ia duduk di pinggir ranjang sambil membelai lembut rambut Taeyeon.
“Eh..? Eng..?” Taeyeon kebingungan melihat dirinya terbangun di ranjang Leeteuk. Dan lebih kaget lagi saat ia melihat Leeteuk duduk di sampingnya sambil membelai lembut rambutnya. “O.. Oppa..?! Ke.. Kenapa malah aku yang tidur di sini..?” Taeyeon mengucek-ucek kedua matanya, seakan belum sadar dari tidurnya.
Leeteuk tertawa geli melihat kebingungan Taeyeon. “Hihihi. Wae?”
Taeyeon ikut duduk di sebelah Leeteuk. “Ja.. Jangan jangan.. Jiwa kita tertukar ya?!” Serunya tiba-tiba kemudian dengan bloon nya ia mengetuk-ngetukkan kepalanya dengan kepala Leeteuk. “Bertukar! Bertukaaarrrrr!!!”
“Taeng..” Leeteuk tak bisa menahan tawanya saat ia melihat tingkah konyol Taeyeon. “Kau gila ya? Kita tidak bertukar jiwa, bodoh. Hihihihi, dasar aneh.”
Cesss.. Taeyeon langsung tersenyum malu. “E.. Ehehe.. Mi.. Mian, Oppa! Habisnya aku kaget. Lagian aku kan masih ngantuk…” Ucap Taeyeon polos. Ia meregangkan kedua tangannya kemudian menguap. “Oppa, gwenchana? Tadi luka Oppa banyak sekali, aku sampai khawatir karena Oppa pingsan ga bangun-bangun.”
Leeteuk tersenyum kecil. Satu kali lagi, ia dapatkan perhatian kecil dari Taeyeon. “Nan gwenchanayo, Taeng. Ah, terimakasih sudah mengobati luka-lukaku.”
Taeyeon mengangguk senang. “Sama-sama, Oppa! Hihihi.” Jawabnya. “Ngomong-ngomong Oppa habis ngapain kok sampai luka-luka gitu?” Tanya Taeyeon penuh kekhawatiran.
Leeteuk tersenyum tipisㅡnamun getir. “Aku.. ah, luka-luka ini tidak seberapa dengan luka di hatiku, Taeng…”
Taeyeon menaikkan alisnya. “Mwo? Maksud Oppa?”
Leeteuk menghela nafas, kemudian ia menyandarkan kepala Taeyeon di pundaknya kemudian ia merangkul bahu Taeyeon. “Tadi siang aku pergi ke apartemen Sora. Kau tahu apa yang aku dapatkan di sana..?”
Taeyeon menggeleng kecil di bahu Leeteuk.
Leeteuk menarik nafas dalam-dalam, kemudian, “Aku melihat dia bercumbu dengan mantannya… Ah, yang mungkin sekarang sudah menjadi pacarnya lagi,”
Taeyeon terkejut. “Ber.. Ber.. Bercum…bu..?”
Leeteuk mengangguk kecil sambil memejamkan kedua matanya. Hatinya kembali terasa sangat perih, dadanya sesak mengingat-ingat kejadian itu lagi. Ia semakin erat merangkul bahu Taeyeon. “Apa yang kau katakan selama ini benar, Taeng. Dia hanya menjadikanku pelariannya…” Air mata Leeteuk perlahan mengalir membasahi pipinya. “Bahkan lebih parah dari itu. Aku hanya sebuah alat yang ia gunakan untuk membuat cemburu mantannya agar mantannya itu kembali menjadi pacarnya lagi…”
Taeyeon tercenung.
“Sejak awal Sora memang tak mencintaiku sama sekali. Ia hanya mempermainkan perasaanku yang sangat mencintainya. Ia hanya ingin mantan pacarnya itu kembali padanya dengan memanfaatkanku…”
“O.. Oppa..” Taeyeon tak tega melihat tangis Leeteuk yang semakin deras.
Leeteuk memejamkan kedua matanya erat-erat, berusaha menahan air matanya. Namun yang ada air matanya malah mengalir semakin deras. “Bodoh sekali aku selama ini tak pernah percaya pada kata-katamu, Taeng…” Isak Leeteuk. “Andai sejak awal aku tak pernah bertemu dengan Sora, andai sejak awal aku tak pernah mencintainya hingga seperti ini.. Uh..”
“Bodoh sekali aku sama sekali tak melihat ketulusan cinta dari dirimu, Taeng. Sungguh. Bodoh sekali aku selama ini. Aku malah memberikan cinta tulusku pada yeoja yang sama sekali brengsek dan tak punya hati seperti Sora…”
“Dan bodohnya lagi sekarang aku hanya bisa menangis di depanmu, Taeng.. Bodoh…” Leeteuk terus-menerus mengumpatㅡmengata-ngatai dirinya bodoh.
Taeyeon memeluk Leeteuk erat. Kemudian berbisik. “Oppa.. Apa kau tahu..? Ibu ku bilang, laki-laki yang menangis itu bukan karena mereka lemah atau tak jantan. Tapi karena mereka punya hati yang lembut dan mudah tersentuh.”
Leeteuk memandang Taeyeon masih sambil berurai air mata. Mengapa..? Mengapa gadis ini tiba-tiba seperti membawakan perekat luka di hati Leeteuk yang terpecah-belah ini..? Mengapa..?
Taeyeon semakin erat memeluk Leeteuk. “Oppa… Uljima. Kau boleh saja menangis, tapi kau harus janji padaku kalau besok kau akan menunjukkan senyum maskulinmu itu padaku lagi. Aku selalu menunggu senyum Oppa yang sangat kusukai itu.” Ucap Taeyeon sambil tersenyum.
“Taeng..” Leeteuk mengusap rambut Taeyeon. “Maafkan aku yang selama ini tak pernah menyadari adanya dirimu.”
Taeyeon tersenyum. “Oppa.. Sebetulnya.. Mau secuek apapun Oppa padaku, mau sekasar apapun Oppa padaku, mau bagaimanapun Oppa, mau sebagaimana bersalahnya Oppa padaku, aku tidak pernah bisa tidak memaafkan Oppa…” Ucap Taeyeon pelan. “Aku selalu memaafkan Oppa dalam keadaan apapun. Bahkan aku rasa.. Oppa sama sekali tak bersalah. Ini hanya masalah waktu saja… Aku hanya bisa menunggu waktu di mana Oppa juga mencintaiku, entah itu kapan…”
Leeteuk mengusap air matanya, kemudian tersenyum lebar memandang Taeyeon. “Kim Taeyeon-ah.. Saranghae..”
Taeyeon terdiam. Ia menatap Leeteuk tak percaya. “A.. A.. A.. M.. Mwo..?” Tanyanya. “O.. Oppa.. Oppa cinta sama aku..?”
Leeteuk tersenyum geli, kemudian.. Chups! Ciuman pertama Taeyeon direbut oleh Leeteuk saat ia mendaratkan bibirnya di bibir mungil Taeyeon. “Nan jeongmal sarang-sarang-sarang-saranghaeyo!” Ucap Leeteuk, kemudian tertawa geli. Ia teringat saat Taeyeon membawakan sushi untuknya dan berkata seperti itu kepadanya.
Taeyeon langsung tersipu malu mendapatkan ciuman pertamanya itu. Ia mencubit lengan Leeteuk. “Oppa genit ah!”
Leeteuk tertawa lepas. Tawa yang ia pancarkan lagi setelah sekian lama tak ia bagikan dengan Taeyeon-nya itu. Ia pandangi lagi Taeyeon yang masih tersipu-sipu karena serangan bibir mendadaknya itu. Mulai detik ini, detik selanjutnya, besok, lusa, dan selamanya, ia akan mencoba mencintai seorang yeoja yang telah mengisi kehidupannya selama 17 tahun hidupnya itu. Seorang Kim Taeyeon. Kim Taeyeon yang polos dan seperti anak kecil, namun terkadang kata-katanya bisa menghibur dan menguatkan orang sedewasa apapun. Kim Taeyeon yang.. Ah, Kim Taeyeon milik-nya
-THE END-


Sumber : Fanfic-ALL-Korean-STAR

Untuk Lihat FanFiction Lainnya Bisa Ke Sini ^^ :  Kumpulan FanFiction [UPDATE] 
#A3

Komentar Terbaru

Just load it!